Sebuah ketidakjelasan di pinggir pantai, sore itu bersama senja. Kisah mengenai Erik dan Helena...
H: Apa yang sedang kamu lakukan Erik?
E: Aku sedang menguras Lautan?
H: Apa maksudmu?
E: Iya menguras lautan.
H: Untuk apa?
E: Tidak tahu, aku hanya mengikuti kata hatiku saja.
H: Apa kau tau hal tersebut sia-sia?
E: Memang, seperti hidup. Pada akhirnya kita juga akan mati bukan? Kita kalah, tapi yasudah.
H: Baiklah, sampai jumpa.
E: Hati-hati dijalan!
Kita hidup hanya sekali bukan? Persetan! Aku sedang tidak tahu harus menulis apa, lebih tepatnya aku seorang pecundang yang tidak mau mengakui perasaanya.
Enthalah....
Jumat, 17 Februari 2017
Jumat, 27 Januari 2017
Hujan, Cerita Gravitasi dan Kompleksitas Bumi.
“Ada
sesuatu yang hanya dipertemukan, bukan untuk dipersatukan. Itu kata para
pujangga, tapi tidak bagiku.” – KrunK
Yak,
sore dan hujan. Kalian sudah tau bukan apa yang aka nada di mejaku? Benar
sekali! Kopi, buku dan playlist random yang menunjuk Adhitia Sofiyan untuk
menemani sore ku. Semua berawal dari After the Rain, Adelaide Sky, Loneliest
Day, Deadly Storm Lighting Thunder dan seterusnya hingga hujan berhenti dan aku
akan segera pergi dari kamarku. Ya setidaknya cepat atau lambat aku juga akan
pergi meninggalkan kamarku. Baiklah, kita mulai..
Sebenarnya
aku sedang tidak ingin menulis apa-apa pada sore hari ini, hanya ingin duduk
termenung sembari menghadap hujan dan sejenak bernafas untuk menikmati hidup.
Akhir pekan yang harus ku nikmati tentunya, karena minggu depan akan menjadi
awal dari rutinitas yang semakin menggila. Ya begitulah, manusia modern.
Aku
sudah menghabiskan dua gelas, sekarang jam enam lewat sebelas dan aku masih
berpikir apa yang akan aku tulis. Sepertinya memang tulisan kali ini tidak tahu
ceritanya akan seperti apa. Kutipan di awal tulisan pun sebenarnya juga secara
acak muncul di kepalaku. Ah! Mungkin itu bisa membantu.
Mereka
yang dipisahkan, sebenarnya telah dipersatukan melalui jalan cerita dan
kisah-kisah di setiap detik pertemuan mereka. Entah apapun yang terjadi di
dalam kisah tersebut, tapi sebenarnya mereka sudah dipersatukan. Tetapi tidak
bisa dipungkiri bahwa manusia terkadang memilih untuk menjadi makhluk eksistensialis,
ya sudahlah.
Semua
tentang pilihan, bagaimana untuk melihat sebuah perpisahan dari sudut pandang alternatif.
Seperti halnya hujan, dipisahkan oleh awan gelap melalui cerita gravitasi dan
kompleksitas bumi. Lalu jatuh menghujam, menuju tanah dan pergi ke suatu batas
bernama laut, kemudian hanya akan kembali lagi, untuk mengalami sebuah
perpisahan yang sama. Begitu kah?
Mereka
yang dipisahkan, suatu saat akan dipertemukan kembali. Entah dalam dimensi,
waktu dan keadaan yang seperti apa…Dan hari pun sudah gelap, kopi ku masih
belum habis, playlistnya masih setia menemaniku dan aku masih tetap belajar
dari kehidupan ini. Terima kasih!
Senin, 23 Januari 2017
Aku Tidak Tahu Harus Menulis Judul Apa Karena Ini Sudah Larut Malam Dan Esok Kita Akan Menyambut Mentari Pagi
“Terkadang
sesuatu yang bagimu sederhana, adalah sesuatu yang sangat mewah bagi orang
lain.” – KrunK
Dan lanjutan dari surat tersebut
adalah.. Wanita sepertimu tidak pantas berada di posisi yang seperti ini. Ya,
seharusnya seperti itu, tapi sayangnya kertasnya tidak cukup. Nah, ada satu
kata kunci, yaitu ikuti saja tulisannya dan jangan berintepretasi yang
aneh-aneh ya. Sebelum melanjutkan tulisan ini, ada baiknya jika kamu memilih
lagu Elephant Kind – With Grace untuk menemanimu menghabiskan entah malam,
pagi, siang, sore atau bahkan ternyata tulisan ini tidak pernh kamu baca sama
sekali. Ya untung atau buntung siapa yang tau bukan? Oh iya aku lupa, tulisan
ini hanya akan ada di dunia ini selama 1x24 jam.
Baiklah kita mulai, kau adalah
wanita hebat dan aku sangat berterima kasih sekali mendapatkan kesempatan untuk
berada di dalam kemewaktuan bersamamu. Menghabiskan detik demi detik, menit
demi menit, jam demi jam, hari demi hari, dan pengalaman demi pengalaman. Aku
begitu belajar banyak sekali dari sosok wanita hebat sepertimu, meskipun kita
jarang sekali berkomunikasi mengenai hal-hal yang kadang ingin aku bicarakan.
Tapi sayangnya, dalam tulisan kali ini tidak banyak yang ingin ku bicarakan.
Aku juga tidak pernah tau bagaimana
kau akan memandang diriku, entahlah aku tidak terlalu memikirkannya. Mungkin
kau akan merasa terganggu dengan tulisan ini atau sebaliknya, entahlah siapa
yang tau? Yang bisa ku lakukan hanyalah mencoba, untuk menggunakan perasaanku dan
jujur saja aku menangis. Hey jangan berpikir yang aneh-aneh, sudah ku bilang
kan. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Dalam sebuah proses sepekan, aku
belajar mengenai apa itu memaafkan diri sendiri. Hal paling sulit yang pernah
aku lewati, dan rasanya begitu luar biasa.
Ketika di jalan tadi, banyak sekali
yang ingin aku tuangkan dalam tulisan ini, tapi sesampainya di kamar, hanya ada
sekian. Ah maaf jika mengecewakan, tapi aku sudah memaafkan diriku sendiri..
Hehehehe. Kau tau, aku tidak pernah tertawa di dalam tulisanku, selamat menjadi
orang pertama yang mampu membuatku tertawa, tersenyum dan menjadi berharga atas
hidup yang sangat absurd ini.
Wanita sepertimu tidak pantas berada
di posisi yang seperti ini…
*Mungkin cukup
sekian, aku rasa semesta tidak ingin diriku menulis lebih banyak. Jika ada yang
ingin kau tanyakan silahkan, tak terhingganya waktu akan selalu menantimu.
Semoga hangatnya
mentari pagi mempertemukan kita, esok.
Minggu, 22 Januari 2017
Empat Puluh Dua
“Kau bisa lahir untuk kesekian kalinya,
tapi tidak mati untuk kedua kalinya.” – KrunK
Jadi
itu hanya kiasan, tapi kiasan yang seperti apa? Kiasan mengenai pembelajaran
dan hidup yang sekali lagi absurd. Tentang hidup dan ketersesatan; Tentang
hidup dan pergumulan; Tentang hidup dan keterlemparan; Tentang hidup dan
pembaharuan; Tentang hidup dan masih banyak lagi.
Hidup
bertahun-tahun dibawah rasionalitas membuatku merasa kering, kerontang di jalan
yang terbentang. Begitu kata salah seorang temanku, Parkis. Pada suatu masa
dimana kami dipertemukan, diskusi pun dimulai. Tentang hidup dan pembaharuan.
Suatu perjalan di dalam kemewaktuan, selama sepekan bersama pengasingan. Aku
mendapatkan banyak hal!
Ini
tentang empat puluh dua manusia yang memberikanku empat puluh dua pembelajaran
sekaligus. Setiap manusia yang ku temui selalu memberikan sebuah
pembelajaran yang tidak pernah ku dapatkan jika hanya menggunakan rasionalitasku
saja. Empat puluh dua manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda. Empat
puluh dua manusia dengan dinamika yang berbeda-beda. Empat puluh dua manusia
yang pada akhirnya akan menjalani takdirnya masing-masing.
Keseimbangan bukan lah hal yang buruk,
perasaan juga tidak selemah yang ku kira. Dengan hati kita akan mengerti,
dengan hati kita akan menanti dan dengan hati pada akhirnya kita akan mati. Aku
tidak mau mati meninggalkan dunia ini hanya dengan rasionalitasku saja, aku
ingin membawa sesuatu yang mampu mengalahkan rasionalitas itu sendiri.
Aku percaya, bahwa
semesta selalu mau mengampuni, jikalau kau merendahkan hati serendah-rendahnya
dan membesarkan hati sebesar-besarnya. Niscaya, semesta akan melahirkanmu
kembali. Bersama dengan harapan dan keyakinan yang akan menemanimu hingga
puncak gunung tertinggi di masing-masing mimpi kalian!
Terima kasih, Semangat Baik!
*Untuk pertama kalinya aku menulis
menggunakan hati, untuk pertama kalinya juga tulisanku tidak seperti biasanya,
untuk pertama kalinya aku akhirnya dilahirkan kembali.
Langganan:
Postingan (Atom)