Selasa, 24 Mei 2016

Tentang Sore dan Kedamaian



            Mari bercerita tentang kekalahan. Tidak selamanya menyedihkan, apabila kita tahu bagaimana seni dalam menerima tragedi tersebut. Bahkan para jenderal paling hebat di dunia pun pernah mengalami kekalahan, jadi itu adalah hal yang wajar untuk seukuran kita, manusia. Sebut saja Alexander Agung, Genghis Khan dan Hitler. Mereka bertempur ratusan kali dan tentu sudah sangat terlatih untuk hal-hal seperti itu, tapi tetap kekalahan adalah hal yang tidak pernah bisa dihindarkan dari manusia. Contoh paling mudah adalah kekalahan akan kehidupan, yang berarti kematian. Manusia pada umumnya sangat takut untuk menerima kekalahan atas kehidupan ini dan memang wajar sekali.
        Jangan terlalu dipikir berat, setiap manusia punya ceritanya masing-masing mengenai kekalahan. Kekalahan pun dalam berbagai aspek yang sangat kompleks juga pasti akan menjadi cerita tersendiri dan seharusnya bisa kita olah menjadi sesuatu mahakarya bernama pengalaman. Lalu kita bisa belajar dari kekalahan tersebut, bahwa kehidupan tidak selamanya akan bisa sama seperti dengan apa yang kita harapkan. Ada kalanya kita harus mampu dan mau untuk menerima hal-hal yang memang susah untuk diterima.
Seperti suara bebunyian khas Streetlight Manifesto, yang menandakan sebuah akhir bahagia. Meskipun penuh dengan paksaan, memang tak selamanya kekalahan adalah hal yang buruk. Seperti penutup di akhir lagu “The Blonde Lead The Blind” yang menjadi sebuah epilog, tentang manusia yang mampu berdamai dengan kekalahan itu sendiri. Menarik!


Sedikit cerita tentang sore dan kedamaian….

Sabtu, 07 Mei 2016

Hidup, Harapan dan Keberanian



Aku hanya ingin memberikan ucapan selamat, untuk kalian yang membaca tulisan ini. Selamat atas keterlemparan kalian di dalam hidup yang menurut saya adalah sebuah perjuangan, kenapa hidup adalah perjuangan? Karena entah setiap dua atau tiga detik sekali bahkan bisa lebih, kalian harus berjuang untuk bernafas agar tetap bisa menyambung hidup ini. Mungkin kita sering lupa bahwa hidup adalah segala hal baik dan buruknya, tapi jangan sampai lupakan bahwa hidup juga kita perjuangkan beserta segala konsekuensinya.
Bagi kalian yang sampai saat ini masih tetap hidup, kalian hebat! Karena kalian adalah para pemberani. Tidak kah kalian berpikir bahwa kematian adalah hal yang lebih baik daripada hidup ini? Setidaknya kalian tidak perlu repot-repot untuk sekedar bernafas setiap dua atau tiga detik sekali. Tapi ingat dengan segala konsekuensi yang akan kalian ambil bahwa di dalam kematian, mungkin kalian tidak akan memiliki kuasa atas diri kalian, karena menurut saya kematian adalah perjalanan menuju ruang hampa dan tidak akan pernah terdefinisi apa yang akan kita jumpai di ujung ruang hampa tersebut. Entah konsep surga, neraka atau purgatory. Kita tidak akan pernah tau sampai kita benar-benar terjebak di ujung ruang hampa tersebut.
Kembali lagi menuju kehidupan, akan sedikit saya singkat tentang segala hal yang ada di kepala saya malam hari ini. Tentang hidup dan keberanian. Manusia tidak pernah tau seberapa kuatnya mereka sampai pada akhirnya detak jantung yang mereka miliki berhenti. Mungkin belakangan ini saya sedang jenuh dengan manusia dan segala realitas yang terjadi dengan kehidupan ini. Tapi saya juga sekaligus tersadar bahwa manusia-manusia yang hidup sampai saat ini begitu berani. Berani untuk menghadapi hidup dan berbagai persoalan yang cepat atau lambat akan mendatangi mereka.
Bahkan, bagi saya kebahagiaan juga adalah sebuah keberanian. Para pemimpi yang berharap akan kebahagiaan yang mereka yakini juga termasuk dalam kategori manusia-manusia pemberani. Saya tidak habis pikir, kenapa mereka begitu berani untuk memutuskan berjuang demi kebahagiaan sedangkan bisa jadi di akhir cerita perjuangan mereka, bukanlah kabahagiaan yang mereka dapatkan. Tetapi manusia-manusia tersebut juga masih tetap percaya bahwa harapan adalah kekuatan yang begitu hebat dan semua manusia akan memiliki makna atas hidup ini ketika mereka memiliki harapan.
Dengan ketidakberharapan yang sedang saya cumbu, manusia-manusia di luar sana telah mengajarkanku apa itu keberanian untuk hidup beserta konsekuensinya. Mungkin ini adalah salah satu cara lain dalam memandang manusia beserta kehidupan yang pada akhirnya akan menjadi sebuah misteri….

“Selama manusia masih memiliki harapan, setidaknya mereka tidak akan tersesat di ruang megah bernama kehidupan.” – Carolus Dewangga

Rabu, 20 April 2016

Menuju Petang



                Melihat sekelompok orang tertawa di sebuah cafĂ© yang aku datangi sore hari ini menjadikanku terlalu berpikir dan mengabaikan kopiku. Apakah benar jikalau manusia sebisa mungkin harus mencapai kebahagiaan di dalam hidupnya? Entah kenapa, ada suatu struktur yang seakan-akan mengkosntruksi manusia untuk berpikir sedemikian rupa. Bahkan secara universal konsep hidup untuk kebahagiaan begitu diterima. Aku mungkin masih belum mengetahui apa yang mendasari seluruh umat manusia di berbagai belahan bumi ini mengamini konsep kebahagiaan tersebut. Tapi akan aku katakan bahwa ini hanya ada di dalam imajinasiku saja, jadi ini bukanlah suatu doa yang berujung pada kata amin.
                Aku bertanya-tanya, apakah diluar sana ada yang justru mencari kesedihan? Ya walaupun tentang bahagia dan sedih itu sangat relatif, tapi topik pembicaraan kali ini sifatnya universal. Bahagia menurut kebanyakan orang dan begitu pula dengan kesedihan. Lalu aku akan menebak ketika membicarakan ini dengan teman, kerabat, keluarga atau siapapun mereka pasti akan jatuh didalam konsep normal. Membosankan sekali jika harus memperdebatkan tentang normal. Tapi jika dipikir-pikir lagi, konsep normal adalah solusi dari pertanyaan ini. Mungkin manusia mencari kebahagiaan didalam hidupnya karena suatu kenormalan yang telah ada selama mereka hidup.
                Ternyata aku sudah berpikir terlalu lama hingga kopi didepanku sudah tidak lagi nikmat untuk disantap. Yasudahlah, setidaknya aku mendapatkan sesuatu untuk ditulis.  Tapi juga berpikir, mau sampai kapan aku hidup seperti ini? Atau memang seperti ini seharusnya hidupku?   
                Bisa jadi latar belakang kehidupanku selama awal tahun ini menjadikan diriku berpikir seperti itu. Seharusnya hal seperti ini tidak perlu dipikirkan terlalu dalam, hanya saja aku penasaran dan mulai jenuh dengan paper yang harus aku kerjakan secepat kilat karena dikejar deadline.
                Sudah hampir empat jam aku duduk ditempat ini dan menyaksikan orang-orang datang dan pergi bersama konsep kebahagiaan yang mereka yakini…..


Kala itu,
Ditulis apa adanya,
Menuju petang,
Didalam hingar bingar kehidupan.

Selasa, 12 April 2016

Singkat Cerita

Singkat cerita, tetaplah berjuang untuk hidup. Setidaknya tetaplah bernafas, karena percayalah dunia ini terlalu singkat untuk kamu sia-siakan dengan kesedihan dan keputusasaan. Sesekali aku ingin menulis yang seperti ini. Tidak terlalu bertele-tele dan mudah dicerna. Begitu pula dengan hidup, semua hanya soal pilihan dan jangan lupakan beserta semua konsekuensinya. Selamat melanjutkan hidup...