![]() |
| Green Day, Jakarta 15 February 2025 |
Kamis, 20 Februari 2025
Sabtu, 09 Maret 2024
di pertengahan bulan desember yang sunyi
"dan pada tiap keheningan-keheningan yang ku temukan di setiap perjalanan, mereka nyata bersemayam dalam setiap perayaan."
Mereka memulai dengan sebuah pertanyaan-pertanyaan di sekitaran perayaan, berharap masing-masing dari mereka menemukan jawaban-jawaban atas ketidaktahuan yang sedang mereka renungkan.
Sesekali salah satu dari mereka menyalakan perapian, begitu pula dengan yang lain menyiapakn perarakan dan sisanya membantu dalam doa dari setiap apa saja yang mereka semogakan.
Senin, 19 Februari 2024
At the end of the day,
At the end of the day, when the sun dips below the horizon and shadows stretch across the canvas of existence, there's a stark realization that lingers in the quiet corners of our minds — the undeniable truth that, in the grand tapestry of life, we are fleeting, mere visitors on this ephemeral journey.
As the hands of time relentlessly move forward, we navigate the maze of experiences, hopes, and dreams. Yet, in the vast cosmic expanse, our narratives are but brief whispers, echoing momentarily before dissipating into the vastness of the unknown.
In the face of this inevitable truth, there is both a haunting melancholy and a profound liberation. The weight of transient struggles and fleeting victories is softened by the cosmic perspective that, at the end of the day, we all converge towards the same destination — the quiet embrace of eternity.
It's a reminder to savor the hues of each sunset, to dance in the rain of laughter, and to forge connections that defy the limitations of time. For in the end, our shared mortality becomes the common ground that unites us all, urging us to seek meaning, purpose, and connection in the brief interlude we call life.
Embrace the beauty in the ephemeral, the poetry in the passing moments, and let the awareness of our shared mortality inspire you to live authentically, love deeply, and leave an indelible mark on the fleeting canvas of existence. At the end of the day, amid the dance of shadows and the whispers of the wind, find solace in the understanding that, somewhere along the journey, you left a trace of your unique light in the tapestry of time.
Sabtu, 31 Desember 2022
Merayakan Keabsurdan di Jakarta
Dan perayaan-perayaan
tersebut, bagi saya hanyalah sebuah satu checklist pemberhentian yang
menyatakan bahwa hidup sudah mencapai momen transit di entah berantah. Cepat
atau lambat tempat pemberhentian itu akan disambut dengan berbagai macam
kesemogaan. Kesemogaan itu biasanya dibalut dengan optimisme, meski tidak sedikit
yang memilih menu hidangan pesimisme untuk menyambutnya. Ada juga beberapa yang
menyambutnya dengan berpuasa, terhadap ekspetasi dan pencapaian.
Beberapa hari yang lalu, banyak sekali
orang-orang yang merayakan ulang tahun seseorang yang saya sebut sebagai “bosku”
atau “Bro J”. Mereka berbondong-bondong, pergi ke tempat peribadatan untuk
merayakan hari kelahiran si juru selamat. Beberapa memaknainya sebagai sesuatu
yang sifatnya transenden, beberapa yang lain tidak dan itu bukan menjadi suatu
masalah. Tetapi bagi saya pribadi, momen seperti ini dapat dimaknai pula
sebagai suatu pemberhentian sejenak dari kehidupan yang terkadang selalu
memaksa kita untuk terus berlari, mengejar tentang apa-apa saja yang bahkan
sebenernya tidak pernah kita ketahui.
Kata “sejenak” sering
sekali hilang dalam diksi kehidupan saya, terlebih ketika sudah pindah dan
menetap untuk beberapa saat di Jakarta, menjadi “homo-jakartensis” yang
terjebak dalam rutinitas sembilan sampai lima. Apabila diberi pilihan, tentu saya
tidak akan memilih cara hidup seperti ini, tetapi tidak semua orang dilahirkan
dengan “keistimewaan” untuk memilih tentang cara hidup yang mereka
inginkan. Sejujurnya sampai detik ini, saya merasa masih lebih beruntung dibandingkan
orang-orang yang kerap saya temui di sekitaran Jakarta yang lebih keras
dibandingkan tidak sama sekali. Iya, Jakarta yang lebih keras dibandingkan
tidak sama sekali.
Jakarta yang katanya
keras itu mengajarkan banyak hal kepada saya, kalau kata dosen saya ketika
mengambil mata kuliah sosiologi kota, “Jakarta itu, laboratorium sosiologi yang
sangat menarik.” dan setelah hampir setahun tinggal di sini, saya mengiyakan pernyataan
tersebut. Di kota tersebut, kalian bisa melihat sepasang kekasih makan makanan
mewah sembari tertawa bahagia menikmati malam natal yang penuh dengan suasana
gembira. Di sisi yang lain, persis di sebelah restoran tersebut, ada sepasang
kekasih kelas menengah yang hanya bisa menikmati malam natal dengan kesederhanaan.
Tidak jauh dari tempat tersebut, di dalam gelapnya gemerlap kota “metropolitan”
tersebut, ada sepasang kekasih yang sama-sama berjuang untuk sekedar bertahan
hidup, jauh dari kata layak.
Sebuah kota yang bagi
saya pribadi, benar-benar menarik. Apa saja yang lewat seketika di kepala saya
bisa saling terhubung satu sama lain, mulai dari kerasnya kehidupan korporasi sembilan
sampai lima, dilanjut dengan pelarian “yang sedang berjuang” di bawah gemerlap lantai
dansa dan sedikit perapian, kemudian disusul dengan cerita-cerita khas di
daerah “yang sengaja terpinggirkan”, ada juga cerita tentang harapan dan
kekecawaan dalam ruang hampa “yang terkadang dibesar-besarkan”, kemudian berakhir
pada sebuah perayaan natal “yang sedikit kehilangan arahnya”.
Oke cukup sampai di sini,
awalnya saya hanya ingin menulis kalau edisi natal kali ini saya rayakan dengan
keberagaman, kesederhanaan yang jauh dari hingar-bignar dan absennya kehangatan
pelukan dari keluarga serta orang-orang terkasih, tetapi makin ke sini kok
malah makin ke sana kemari ya. Oke kita cukup sudahi sampai di sini saja.
Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini.
Selamat merayakan
apa saja yang harus dirayakan,
Krunk yang sedang melamun
seperti biasanya.
Kamis, 03 Februari 2022
Sepersekian Pertanyaan dan Kemungkinan
Senin, 31 Januari 2022
Kamis, 09 Desember 2021
Tentang Masa-Masa Yang Mewaktu, Tentang Orang-Orang Yang Datang Dan Pergi.
Pada suatu malam cerah, langit-langit di selatan Yogyakarta memperlihatkan banyak sekali bintang-bintang bertebaran. Bulan malam itu juga bersinar cukup terang, menyinari malam kami berdua berbincang tentang kehidupan di sebuah gereja tua yang cukup jauh dari pusat kota. Perbincangan malam itu membahas banyak sekali tentang masa lalu, dosa dan penyesalan yang terbungkus rapi dalam sebuah analogi-analogi kehidupan. Entah setan apa yang merasukiku malam itu, tiba-tiba saja aku menceritakan beberapa hal kepada perempuan tersebut.
Namanya Ghinaya, dia seorang wanita yang tentu saja baik, toleran dan begitu menyenangkan ketika diajak berbincang. Entah apapun topiknya, segala sesuatu hal yang kami bicarakan menjadi begitu menarik dan asik. Ghina adalah seseorang yang selalu berhasil membawa perbincangan kami ke arah yang lebih komunikatif dan tak jarang muncul berbagai macam "pencerahan" yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku. Bahkan pernah suatu ketika kami membicarakan berbagai macam perihal kehidupan dari matahari terbenam hingga terbit kembali dan waktu terasa begitu singkat.
Perbincangan malam itu terasa seperti pengakuan dosa bagiku. Begitu banyak hal-hal yang ku ceritakan kepadanya dan 90% dari pembicaraan tersebut adalah mengenai penyesalanku di masa lampau sebagai seorang manusia yang sudah mengudara di dunia ini selama 23 tahun. Meski aku menyampaikan dengan sangat tersirat, aku berani bertaruh bahwa Ghina sepertinya memahami betul hal-hal tersebut secara tersurat. Ketika pengakuan dosa tersebut selesai, malam itu terasa begitu asing karena seakan-akan waktu berhenti sejenak untuk beberapa saat.
-----
Sering sekali kami menghabiskan waktu bersama di sebuah gereja tua dan tempat peziarahan. Membicarakan permasalahan hidup, ketidakyakinan terhadap apa yang sedang diyakini dan hal-hal apa saja yang memang seringnya dibahas di seperempat malam. Meski gereja bukanlah tempatnya beribadah, tetapi dia sangat senang dan tenang ketika menghabiskan waktunya di sana. Dia adalah wanita yang sangat toleran, melihat segala macam perbedaan untuk memahami, bukan menghakimi.
Menuju ke selatan, malam yang panjang dan perapian yang menyala setiap beberapa menit sekali adalah makanan kami sehari-hari ketika bertemu. Dari sekian banyak pertemuan, kami selalu memilih untuk pergi ke selatan Yogyakarta. Dari 24 jam yang ada di muka bumi ini, kami hanya memiliki malam hari untuk berbincang dan dari berbagai macam jenis kenikmatan duniawi, kami hanya memilih perapian yang menyala untuk dinikmati. Ketiga hal tersebut adalah sesuatu hal yang mungkin cukup membekas apabila mengingat nama Ghina.
-----
Singkatnya, tulisan ini adalah sebuah hutang seorang teman yang seharusnya sudah dibayar sejak setahun yang lalu, tetapi orang tersebut memilih melunasinya ketika salah satu dari mereka akan meninggalkan Yogyakarta untuk melanjutkan kehidupan di luar sana.
Jika ada orang yang bertanya siapa itu Ghinaya, bagiku dia adalah teman yang baik. Kata "baik" bagiku sudah sangat cukup untuk menjelaskan tentang siapa wanita tersebut dan kata tersebut tidak perlu dipoles terlalu berlebihan, biarkan saja itu melekat di dalam tulisan ini.
Ditulis sejujur-jujurnya,
Krunk.
"Tentang masa-masa yang mewaktu,
Tentang orang-orang yang datang dan pergi."
Sabtu, 13 November 2021
1:51 Waktu Setempat
Hari minggu,
Baru saja sabtu berganti dan senin dalam genggaman. Matahari belum menampakan jati dirinya, sedangkan malam-malam yang gelap masih berseteru bersama rembulan yang tak kunjung padam. Angin di depan rumah begitu tenang, tidak menunjukkan tanda-tanda adanya hujan di pagi hari. Pohon-pohon milik tetangga juga tetap berdiam diri, tidak bersuara sama sekali. Pada suatu waktu yang absurd dan banal, seorang lelaki masih terjaga memikirkan tentang apa-apa saja yang singgah sesekali di kepalanya. Terus berputar dan mewaktu, bersama malam-malam yang tak kunjung menghitam.
Tiga buah es batu di sebuah gelas mulai mencair, seperti suasana di sepertiga malam seorang lelaki bersama keterlemparannya. Seharusnya, lelaki tersebut terlebih dahulu menuangkannya lalu menikmatinya sembari menuliskan tentang apa saja yang sedang menganggu waktu tidurnya. Tetapi dia memilih untuk membiarkannya, kemudian sesekali melihat sudah seberapa jauh es batu tersebut menyesuaikan dirinya dengan perubahan. Setelah beberapa menit, ternyata tidak ada perubahan yang cukup berarti. Sama seperti kehidupan lelaki tersebut yang sedang mengalami stagnansi dan tersesat di entah berantah. Kondisi itu diperparah dengan sebuah sabotase yang dilakukan oleh dirinya sendiri.
Jarum jam di kamar tersebut terus beririsan, saling mengejar satu sama lain mencari sesuatu hal yang fana bernama waktu. Detik demi detiknya terasa seperti sedang ditahan oleh sebuah lubang hitam yang sesungguhnya tidak terlalu signifikan keberadaannya. Waktu menjadi teman yang siap menikam kapan saja, terlebih ketika lelaki tersebut mulai kehilangan kesadarannya. Tidak ada yang benar-benar berarti di hadapan sang waktu, kecuali perubahan yang tidak pernah benar-benar berubah. Hanya ada kekosongan dan kehampaan yang mengisi sepersekian perasaan dan pikiran lelaki tersebut. Di malam tersebut, beristirahat menjadi musuh yang sama sekali tidak mau berkompromi. Maka terjadilah vakansi singkat, bersama seperempat botol whiskey keluaran Inggris Raya.
"Untuk sekedar terlelap dan beristirahat, dari hingar bingar kehidupan yang tak berkesudahan."
1:51 waktu setempat, krunk.
Rabu, 03 November 2021
Karena Hidup Tidak Akan Selalu Baik-Baik Saja.
Ketika masih bekerja sebagai seorang barista semasa kuliah 4 tahun silam, seringkali saya berbincang dengan juru parkir di cafe tersebut. Namanya Mas Totok, seorang pria berbahagia yang sudah berkeluarga dan aku berani bertaruh bahwa saat ini dia adalah seorang ayah yang hebat.
Pernah suatu ketika, saya membicarakan "sambatan" hidup yang tentunya tidak pernah berkesudahan bersama Mas Totok. Beliau menceritakan tentang permasalahan ekonomi sedangkan saya membicarakan permasalahan hidup dan tentang apa saja yang saya pikirkan, tentu saja ditemani oleh sebatang perapian dan dua gelas kopi.
Apa yang diceritakan oleh Mas Totok saat itu adalah permasalahan yang tentunya akan dihadapi oleh setiap orang dewasa, apalagi yang sudah berkeluarga. Pembicaraan atau sambatan seperti ini sebenarnya sudah menjadi makanan sehari-hari ketika cafe sedang sepi pengunjung. Beberapa juru parkir yang lain juga kerap menceritakan hal-hal yang sama. Tetapi, Mas Totok selalu menjadi juru parkir yang paling menarik dan berbeda ketika bercerita.
Kalau tidak salah, sore itu Yogyakarta sedang diguyur hujan. Mas Totok berjalan menuju teras cafe tempat di mana biasanya kami berbincang sembari membawa payung hitam dan peluit di mulutnya. Sambil berjalan seperti juru parkir yang lain, beliau meniup peluitnya sebagai kode bahwa dia akan mendatangi saya untuk berbincang dan tentu saja saya masuk kembali ke bar untuk menyiapkan kopi yang akan menemani pembicaraan kami kedepannya.
Biasanya, Mas Totok memulai pembicaraan dengan sapaan "Heh, pie?" yang artinya menanyakan kabar atau keadaan dan selalu ku jawab dengan "Yo ngene-ngene wae Mas." yang artinya begini-begini saja. Setelah kami memulai ritual tersebut, kemudian sesi "sambatan" hidup dimulai dengan berbagai macam cerita atau kejadian sehari-hari yang telah kami alami. Seringnya kami mengawali dengan cerita-cerita remeh soal kehidupan.
Ketika kami selesai bercengkerama, ada satu hal yang selalu saya ingat ketika kami akan berpisah, beliau selalu menutup pembicaraan dengan mengucapkan kalimat pamungkasnya yaitu "Yo karang jenenge urip, ra bakal penak terus." yang artinya "Namanya juga hidup, tidak akan enak terus.". Kata-kata itu cukup melekat di dalam kepala saya hingga hari ini karena cukup singkat dan menohok seorang mahasiswa semi barista yang selalu mempertanyakan banyak hal dalam hidupnya.
Kalimat pamungkas Mas Totok tersebut pada akhirnya saya maknai dengan cara yang mungkin sedikit berbeda dengan apa yang sebenarnya beliau maksudkan. Kata-kata itu pada akhirnya saya aminkan sebagai obat pereda nyeri yang disebabkan oleh kehidupan. Saya mengartikannya sebagai "Karena Hidup Tidak Akan Selalu Baik-Baik Saja." yang selalu saya ucapkan kepada diri sendiri ketika sedang berada di dalam kondisi yang menyebalkan. Contohnya, ketika saya sedang menulis tulisan kali ini hahaha
Rabu, 07 April 2021
“And Life Must Go On, Boy.”
“And Life Must Go On, Boy.”
Begitu kataku kepada diriku sendiri, pagi
ini.
Untuk sekedar mengingatkan, bahwa memang benar banyak hal-hal yang sudah terlewati dan berlalu begitu saja. Tetapi tidak semuanya harus disesali, cukup beberapa bagian saja.
Hidup akan terus berlanjut, karena memang benar kita sedang berada dalam sebuah pementasan berjudul “Menunggu Kematian.” yang datangnya bisa kapan saja.
Maka tidak ada yang salah dengan
melanjutkan kehidupan ini, entah dengan berbagai macam cara atau menjadi siapa pun
yang semoga kita kehendaki, karena ujung-ujungnya kehidupan ini tidak pernah
bisa kita ulang kembali.
Selasa, 29 Desember 2020
Jika Tidak Ada Hari Esok Untukku
Jika tidak ada hari esok untukku
Memilih untuk tetap hidup hingga hari ini adalah keputusan yang tepat
Pernah pada suatu ketika aku memutuskan untuk menyudahinya
Tetapi entah apa yang menghentikanku pada sore hari itu.
Jika tidak ada hari esok untukku
Hujan di sore hari adalah momen terbaik untuk berkontemplasi
Matahari pagi adalah momen terindah untuk bermimpi
Dan malam yang sunyi adalah momen terbaik untuk menyendiri.
Jika tidak ada hari esok untukku
Ketahuilah bahwa aku benar-benar bersyukur
Untuk kehidupan yang begitu luar biasa hebatnya
Dan aku menjalaninya secara utuh dengan penuh kesadaran.
Jika tidak ada hari esok untukku
Aku pernah bermimpi akan menjadi seseorang di kemudian
hari
Seseorang yang akan merubah dunia menjadi tempat yang
lebih baik
Bisa melalui jalur politik, musik, tulisan atau menjadi
Romo sekalipun.
Jika tidak ada hari esok untukku
Sepertinya aku masih mengharapkan seseorang dari masa
lalu
Sungguh, wanita itu sering kali hadir di dalam
kepalaku
Setidaknya sebulan sekali selama sepuluh tahun kebelakang.
Jika tidak ada hari esok untukku
Banyak sekali imajinasi dan pemikiran gila di kepalaku
Mengenai hal-hal yang penting dan tidak penting
Seperti nyata atau tidaknya kehidupan kita hari ini.
Jika tidak ada hari esok untukku
Menurutku, hamburger adalah makanan paling lezat di
dunia
Sedangkan kopi adalah minuman paling enak di muka bumi
Dan rokok serta alkohol adalah sesuatu yang rasanya
biasa-biasa saja.
Jika tidak ada hari esok untukku
Keluargaku memang tidak sempurna, tetapi aku menyayangi mereka
Terkadang mereka menyebalkan, tetapi selalu hadir di barisan terdepan
Mereka adalah salah satu hal yang paling ku syukuri di kehidupan ini.
Jika tidak ada hari esok untukku
Sampai detik ini aku masih sering memikirkan masa lalu
Tentang segala hal yang sudah terjadi dan lewat begitu
saja
Jikalau sempat, akan ku buat mesin waktu untuk kembali berkunjung.
Jika tidak ada hari esok untukku
Green Day adalah band yang benar-benar luar biasa
Lagu Jesus of Suburbia sangat berperan besar dalam kehidupanku.
Dan American Idiot adalah album paling gila.
Jika tidak ada hari esok untukku
Semoga lunas sudah hutang yang harus dibayar
Tidak sepantasnya manusia sepertiku hidup lebih lama
Atas segala kesalahan tragis dan menyedihkan di masa
lalu.
Jika tidak ada hari esok untukku
Semoga kita bisa bertemu kelak
Aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya
Sebagai seseorang yang seharusnya
bertanggung jawab.
Jika tidak ada hari esok untukku
Mungkin memang sepantasnya seperti itu
Karena aku adalah sepersekian yang tidak signifikan
Dan memang begitu adanya, di dalam kemewaktuan yang
temporer.
Jika tidak ada hari esok untukku
Sesungguhnya, banyak sekali hal yang ingin ku lakukan di dunia ini
Entah apakah masih ada cukup waktu dan kesempatan bagiku
Di dalam keterlemparan yang tidak bertuan.
Di antara hidup dan mati, pada sebuah perayaan yang tragis.
Yogyakarta, 30 Desember 2020.
Jumat, 11 September 2020
Tentang Pikiran dan Perasaan
Apakah kalian
pernah merasakan kebahagiaan dan kesedihan di waktu yang bersamaan? Terdengar
cukup aneh, tapi pagi ini aku merasakan kedua hal tersebut secara bersamaan.
Bahagia karena aku masih diberikan hidup, keluarga yang baik dan dapat
menikmati pagi ini dengan segelas teh serta pemandangan burung-burung yang
berterbangan di sekitar rumahku. Sedih karena menyadari bahwa dalam beberapa
jam, hal-hal tersebut akan menghilang dan aku harus melanjutkan kehidupanku di
usia dua puluh tiga yang menyebalkan. Aku benar-benar yakin bahwa kalian pernah
merasakan hal-hal semacam ini.
Manusia adalah makhluk yang menurut
ku begitu kompleks dan rumit. Kita terdiri dari berbagai macam perasaan dan
pikiran yang terus-menerus berubah dan saling mengisi satu sama lain, perpaduan
komposisi itu pun bergantung juga pada suasana dan kondisi di sekitar kita.
Bisa jadi kita merasakan kesedihan karena beberapa jam yang lalu kita baru saja
dikhianati oleh orang yang kita cintai, tetapi di saat yang bersamaan bisa jadi
kita harus berbahagia karena dikelilingi oleh orang yang benar-benar mencintai
kita dan masih peduli dengan keberadaan kita.
Setelah
melalui pergumulan dalam diri karena mempertimbakang perasaan dan pikiran, kita
akan berakhir pada satu titik dimana keputusan harus segera diambil, apakah
kita akan bersedih atau berbahagia. Tentu saja, secara tidak sadar kita akan
berbicara dengan diri kita sendiri seperti orang gila, untuk menentukan respon
seperti apa yang harus kita berikan terhadap sekumpulan kejadian yang sedang kita
alami, atau hal yang paling mendasar adalah menentukan apa yang harus kita
rasakan dan kita pikirkan untuk menjadi satu fondasi tertentu di dalam memenuhi
diri kita sebagai manusia yang mewaktu dalam keadaan yang selalu berubah.
Beberapa
orang akan mengikuti perasaan mereka, beberapa yang lain akan mengikuti pikiran
mereka dan tidak ada yang salah dengan kedua hal tersebut karena pada akhirnya
ini cuman persoalan preferensi. Beberapa teman-temanku menyadari biasanya
mereka terlebih dahulu digerakan oleh perasaan, lalu kemudian dikendalikan oleh
pikiran. Bisa jadi perasaan kita yang mendominasi, bisa pula pikiran kita yang
jauh lebih bijak untuk mengendalikan keadaan. Perasaan tidak pernah salah,
begitu pula dengan pikiran kita, hanya saja kesesuaian menjadi sesuatu yang
biasanya mutlak bagi sebagian manusia di dalam menentukan respon yang paling
tepat dalam suatu kondisi tertentu.
Bagi
ku pribadi, perasaan dan pikiran seperti saudara kembar yang sering berkelahi
karena memperebutkan hal-hal remeh, tetapi di saat yang bersamaan mereka berdua
adalah saudara kembar yang saling melengkapi satu sama lain. Meskipun keduanya
dapat hidup terpisah, tetapi kemungkinan akan lebih baik jika mereka hidup
berdampingan dan saling menopang satu sama lain sebagai saudara yang memiliki
keterikatan batin. Sesekali saudara kembar bernama perasaan dan pikiran
tersebut berkelahi, untuk memperebutkan kendali atas diri kita. Sesekali pula
saudara kembar tersebut saling bersinergi agar diri kita tidak kehilangan arah.
Mereka berdua terkesan seperti “love hate
relationship” tetapi dalam bentuk yang abstrak.
Sabtu, 05 September 2020
Pengampunan Imajiner
Aku masih menantikan, hari-hari di
mana aku tidak menghidupinya, menjadi yang satu dengan alam semesta dan menjadi
yang tidak mewaktu dalam kehidupan. Tetapi hari-hari itu masih menjadi
pertanyaan, entah kapan datangnya atau seperti apa rupanya, tidak ada satu pun
manusia yang dapat menjelaskan dan membuktikannya secara penuh, bahkan
pembahasan mengenai hal-hal tersebut hanya berputar disekitaran intepretasi dan
nilai-nilai kebenaran yang relatif. Melalui segala perdebatan tentang seperti
apa kematian nantinya, tentu kita sama-sama tahu bahwa pada suatu saat, semua
manusia akan menepi dan berakhir.
Beberapa orang mempercayai konsep
surga dan neraka, beberapa yang lainnya tidak. Sebagian orang mempercayai
konsep reinkarnasi, sebagian yang lainnya tidak. Ada juga yang mempercayai
bahwa tidak ada apa-apa setelah kematian, pun demikian dengan hal-hal rumit
yang lain. Entah akan seperti apa kematian nantinya, satu-satunya persoalan
yang sangat menggangguku adalah mengenai bagaimana kita akan dibalas oleh
semesta di kemudian hari. Untuk segala dosa, kesalahan dan kejahatan yang telah
kita perbuat baik kepada diri sendiri maupun orang lain.
Pada suatu titik aku berpikir, jika
nantinya benar-benar tidak apa-apa setelah kematian, akan sangat tidak adil
bagiku ketika semua dosa, kesalahan dan kejahatan yang telah ku perbuat di
dunia ini tidak dibalas. Aku berharap, lebih baik semesta membalas semua dosa
dan kesalahan tersebut di dunia ini, ketika aku masih mewaktu dan menjadi
manusia. Bagiku, orang-orang berdosa tidak membutuhkan pengampunan, dia hanya
butuh dibalas dengan hal yang setimpal agar tidak lagi merasa gelisah dan
bersalah.
Pengampunan bukanlah hubungan yang satu arah, bahkan sebenarnya kita tidak pernah tahu apakah semesta benar-benar mengampuni. Selama hidup di dunia ini, bisa saja kita hanya menghidupi pengampunan yang imajiner, sebuah pengampunan yang sebenarnya tidak pernah ada dan hanya hidup di dalam pikiran dan keyakinan kita. Bagiku pribadi, pengampunan akan lunas ketika kita sudah dibalas atas segala kesalahan dan perbuatan dosa di masa lampau. Bisa jadi pengampunan seperti itu dapat diterima oleh beberapa orang yang tidak dapat menerima pengampunan secara cuma-cuma seperti diriku saat ini.
Sampai sejauh
ini, aku berharap, semoga semesta mau membalas semua kesalahan dan dosa yang
telah ku perbuat. Tidak pada kematian, tetapi pada kehidupan.
Minggu, 09 Agustus 2020
Ketidakpercayaan dan Keheningan
Ditulis sesingkat-singkatnya.
Pada
akhirnya, kita akan berakhir di pemakaman seorang diri. Bahkan
perayaan-perayaan orang terkasih hanya menjadi pelepasan euforia semata, setelah
itu sisanya hanyalah serangkaian rutinitas dan formalitas. Benar-benar tidak
ada yang lebih mengerikan selain menghadapi kenyataan bahwa kita akan menepi,
berhenti lalu mati. Tetapi memang begitulah adanya, serangkaian kehidupan
beserta kematian, sekumpulan yang kompleks dan membuatku ingin meledak. Menjadi
berkeping-keping dan bergeming. Bukan kah itu yang sebenarnya selama ini engkau
cari? Atau justru alasan itu hanya dalih di balik akumulasi ketakutan terhadap
ketidakjelasan dan ketidakpastian? Bisa jadi keduanya.
Di dalam kesendirian, aku belajar
mengenai ketidakpercayaan dan sampai detik ini aku menghidupinya. Tentang
ketidakpercayaan terhadap apapun, bahkan terhadap yang absolut sekalipun. Karena
kepercayaan melahirkan pengkhianatan dan dari situ roda berjalan bernama dendam
tertanam abadi, di setiap nadi. Mengalir dalam darah yang menghidupi manusia,
yang sebagian berhasil mengenal belas kasih, tetapi tidak dengan yang sebagian.
Lalu berakhir dengan betapa biadabnya kita, manusia, yang saling mengkhianati
satu sama lain. Bersama ego, yang saling berlomba satu sama lain, menjadi yang
paling.
Pemakaman di dunia ini berbagai
macam bentuknya, bisa sebidang tanah, sebuah wadah atau seluas berkah. Tetapi
satu yang pasti, mereka sudah tidak lagi dikhianati karena yang menjadi teman
abadi adalah kesendirian. Seorang teman bernama kesendirian memberikan sebuah
garansi, bahwa dia tidak akan pernah mengkhianatimu atau setidaknya
mempermainkanmu. Kesendirian justru mengjarkanku banyak hal mengenai hidup dan
mati. Bahkan beberapa pelajaran yang tidak akan aku pernah dapatkan di tempat
lain. Dari situ, aku mengetahui bahwa kehidupan ini hanyalah sekumpulan
pertaruhan pilihan dan konsekuensinya.
Aku belajar bahwa baik untuk tidak terlalu cepat memberikan kepercayaan kepada orang lain, tetapi aku kemudian belajar bahwa akan semakin lebih baik lagi ketika tidak memberikan kepercayaan kepada orang lain, bahkan kepada diri sendiri. Terdengar membingungkan, aku pun demikian. Tetapi dari ketidakpercayaan tersebut, setidaknya aku tidak lagi hidup dalam ketakutan karena aku tahu pada akhirnya tidak ada sesuatu hal yang akan ku dapatkan di kemudian hari, selain kesendirian dan keheningan. Tetapi itu lebih baik, dibandingkan dengan pengkhianatan dan dipermainkan, oleh sekelompok mamalia bernama manusia.
Rabu, 27 Mei 2020
Tentang Sesuatu Di Luar Kendali Kita.
-----------
(3) dengan sikap yang kita ambil terhadap penderitaan yang tak terhindarkan.






