Sabtu, 29 April 2017

Pulang Bersama Petang


Pulang, bersama petang.
 
Bintang gemintang dan bulan malam itu begitu indah. Aku menikmati perjalanan pulangku sembari menyalakan perapian, setiap hembusan dan kemewaktuan adalah anugerah yang benar-benar aku syukuri. Sudah cukup lama aku tidak menulis, masalahnya adalah waktu dan rasa lelah. Banyak sekali yang tidak sempat ku utarakan, hanya menjadi angin yang berlalu begitu saja. Jadi seperti biasa, aku hanya ingin menulis. Tidak terlalu peduli dengan pemilihan kata atau segala yang begini dan begitu. Oke mari kita mulai pestanya.
            Tepat pukul 12 lebih sedikit aku melaju bersama kejamnya waktu, menembus Yogyakarta dan segala romantismenya di tengah malam yang semakin kusadari, tak bisa ku tinggalkan. Kota ini terlalu nyaman, sayang sekali apabila suatu hari nanti aku harus pergi dan tidak kembali. Tapi itu berlebihan, tentu ketika dewasa nanti aku harus kembali ke kota ini, untuk memenuhi seluruh janji-janji yang telah ku sepakati dengan teman-temanku. Bukan hanya itu, aku juga harus menjenguk keluargaku dan yang paling favorit adalah kamarku. Tempat dimana tulisan ini tercipta, bersama kelelahan dan kekhawatiran untuk menjadi dewasa.
            Lampu merah, seratus dua belas! Untuk senyap malam dan perapian yang semakin lama menemui ajalnya, tak ada satu kendaraan pun yang lewat, bahkan semua toko sudah tutup. Hanya ada angin malam yang menari-nari di angkasa, bersinergi dengan asap yang juga ikut merayakan momentum tanpa manusia. Mereka bahagia dan aku juga, begitu tenang… Tapi sayangnya aku harus terlelap, sekian.

Jumat, 03 Maret 2017

Sebuah Tulisan Berjudul "Jenny Menari"

 
 
Tahun demi tahun, bahkan minggu demi minggu lagu ini tidak pernah absen mengisi resistensi playlistku. Jenny ku yang ku rindukan, sesosok gadis kecil yang menjadi saksi perkembanganku menuju pubertas. Dia selalu menyanyikan Look With Whom I’m Talking To sembari menari dan mengisyaratkan “Hey, bangunlah! Mari menari, diatas tirani.. Untuk apa kau hidup jika tidak untuk dirayakan. Apalagi di akhir pekan” bisiknya sembari terus-menerus menari di sepersekian tiga menit enam detik.
Berbagai prahara hidup ini hanyalah satu banding sekian juta partikel bebas yang ada di dunia tak berujung ini. Sedangkan satu lagu yang sering dinyanyikan Jenny sedari ku tumbuh dewasa hingga sekarang adalah sebuah nafas kehidupan, untuk sebuah ketersesatan. Untuk kesekian kalinya, Look With Whom I’m Talking To lebih dari sekedar nyanyian gadis kecil bernama Jenny. Setiap kata, nada dan hentakan di dalamnya memberikanku nafas kehidupan. Apalagi jika berbicara soal romansa dan kekecewaan atas hidup ini, Jenny akan datang kemudian berteriak dengan sangat kencang. Lalu sembari memelototiku dia akan bersabda “Sudah kesekian kalinya dan aku bosan. Mari menari?” dan kami akan menari sampai menit ketiga lebih enam detik. Lalu dia pergi entah kemana dibawa laju angin yang tak terhingga kuatnya.
Jujur saja, kata demi kata tidak pernah menjadi makna. Hanya saja, ada sebuah nyawa yang dihembuskan di dalam lagu ini. Sebut saja nabi itu bernama Farid Stevy Asta, ikon teman-teman yang berfestival diakhir pekan sembari menangisi hari terakhir peradaban. Tentu saja dia cuman ngetweet sabtu minggu. Bahkan ada suara-suara lain yang muncul dan berkata lain dengan apa yang dinyanyikan oleh Jenny. Ada suara tersendiri yang ku dengarkan ketika bertahun-tahun lagu ini selalu mengisi playlist mingguanku.
Dan bersama akhir pekan serta kekhawatiran, Jenny tidak pernah pergi meninggalkanku. Selalu ada bisikan kecil yang keluar dari bibir manisnya, untuk sekedar menari bersama kegelisahan hati yang seharusnya dirayakan. Tangisan awal pekan juga selalu beserta Jenny dan tarian  gilanya yang terkadang juga semakin menjadi-jadi. Jika sudah hampir mati kelelahan, dia selalu menawarkan sekumpulan perapian, untuk sekedar menghangatkan suasana malam.
 
Yak, begitulah Jenny entah bertransformasi atau tidak, menjadi sebuah sekumpulan yang disebut FSTVLST. Memang sudah bukan masaku lagi, kini saatnya mereka yang sedang menjalani masa pubertas nya untuk merayakan akhir pekan bersama mereka. Cheerssss~

Jumat, 17 Februari 2017

Menguras Lautan

Sebuah ketidakjelasan di pinggir pantai, sore itu bersama senja. Kisah mengenai Erik dan Helena...


H: Apa yang sedang kamu lakukan Erik?
E: Aku sedang menguras Lautan?
H: Apa maksudmu?
E: Iya menguras lautan.
H: Untuk apa?
E: Tidak tahu, aku hanya mengikuti kata hatiku saja.
H: Apa kau tau hal tersebut sia-sia?
E: Memang, seperti hidup. Pada akhirnya kita juga akan mati bukan? Kita kalah, tapi yasudah.
H: Baiklah, sampai jumpa.
E: Hati-hati dijalan!


Kita hidup hanya sekali bukan? Persetan! Aku sedang tidak tahu harus menulis apa, lebih tepatnya aku seorang pecundang yang tidak mau mengakui perasaanya.
Enthalah....

Jumat, 27 Januari 2017

Hujan, Cerita Gravitasi dan Kompleksitas Bumi.

            “Ada sesuatu yang hanya dipertemukan, bukan untuk dipersatukan. Itu kata para pujangga, tapi tidak bagiku.” – KrunK
 
            Yak, sore dan hujan. Kalian sudah tau bukan apa yang aka nada di mejaku? Benar sekali! Kopi, buku dan playlist random yang menunjuk Adhitia Sofiyan untuk menemani sore ku. Semua berawal dari After the Rain, Adelaide Sky, Loneliest Day, Deadly Storm Lighting Thunder dan seterusnya hingga hujan berhenti dan aku akan segera pergi dari kamarku. Ya setidaknya cepat atau lambat aku juga akan pergi meninggalkan kamarku. Baiklah, kita mulai..
           
            Sebenarnya aku sedang tidak ingin menulis apa-apa pada sore hari ini, hanya ingin duduk termenung sembari menghadap hujan dan sejenak bernafas untuk menikmati hidup. Akhir pekan yang harus ku nikmati tentunya, karena minggu depan akan menjadi awal dari rutinitas yang semakin menggila. Ya begitulah, manusia modern.
            Aku sudah menghabiskan dua gelas, sekarang jam enam lewat sebelas dan aku masih berpikir apa yang akan aku tulis. Sepertinya memang tulisan kali ini tidak tahu ceritanya akan seperti apa. Kutipan di awal tulisan pun sebenarnya juga secara acak muncul di kepalaku. Ah! Mungkin itu bisa membantu.
            Mereka yang dipisahkan, sebenarnya telah dipersatukan melalui jalan cerita dan kisah-kisah di setiap detik pertemuan mereka. Entah apapun yang terjadi di dalam kisah tersebut, tapi sebenarnya mereka sudah dipersatukan. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa manusia terkadang memilih untuk menjadi makhluk eksistensialis, ya sudahlah.
            Semua tentang pilihan, bagaimana untuk melihat sebuah perpisahan dari sudut pandang alternatif. Seperti halnya hujan, dipisahkan oleh awan gelap melalui cerita gravitasi dan kompleksitas bumi. Lalu jatuh menghujam, menuju tanah dan pergi ke suatu batas bernama laut, kemudian hanya akan kembali lagi, untuk mengalami sebuah perpisahan yang sama. Begitu kah?
            Mereka yang dipisahkan, suatu saat akan dipertemukan kembali. Entah dalam dimensi, waktu dan keadaan yang seperti apa…Dan hari pun sudah gelap, kopi ku masih belum habis, playlistnya masih setia menemaniku dan aku masih tetap belajar dari kehidupan ini. Terima kasih!