Kamis, 29 Desember 2016

Erik & Helena : Skenario Akhir Desember

"Ah hujannya sudah berhenti." Begitu kata Erik sembari menyalakan rokoknya dan melihat keluar jendela. "Aku baru ingat bahwa pagi ini adalah akhir dari sebuah desember, bukan kah begitu Helena?" Helena masih tertidur pulas di kasurnya sembari mengenakan selimut dan topi natal. Malam hari sebelumnya, sepasang manusia yang terjebak di dalam kemewaktuan tersebut merayakan sebuah perayaan atas ketiadaan. Ketiadaan kemanusiaan, lebih tepatnya sekumpulan manusia yang menuhankan modernisme.
"Lihat lah betapa bodohnya mereka Helena, terjebak di dalam rutinitas dan terus-menerus melakukan sesuatu yang selalu diulang-ulang. Memulai pagi, melaksanakan siang dan mengakhiri malam. Apa mereka tidak bosan?" Sesekali Erik hisap rokoknya, sembari melihat orang-orang di kerumunan melalui kaca jendelanya yang berembun.
Dari kaca jendela tersebut dia melihat banyak sekali manusia dengan berbagai kegiatan dan jati diri. Ada seorang parlente mengenakan busana super mewah dan berjalan layaknya manusia maha oke, menyisir rambutnya yang klimis dan sesekali ia curi-curi pandang terhadap gadis-gadis muda disekitarnya. Kemudian ada beberapa anak kecil yang saling berkejaran, entah apa yang sedang mereka mainkan, tapi itu terlihat sangat membahagiakan, hal yang sudah lama tidak dirasakan oleh Erik. Ada pula kakek tua renta yang berjalan lemah di pergumulan para manusia dan rutinitasnya, ia berjalan tertatih-tatih berjuang agar dapat segera keluar dari kerumunan yang semakin menggila tersebut.
"Ah, manusia, kehidupan dan lagi-lagi permenungan. Menyebalkan!" Ucap Erik sambil sedikit berteriak. Teriakan tersebutlah yang membangunkan Helena dari tidur panjangnya. "Ada apa Erik? Kenapa kau berteriak? Ah sudah pagi lagi ternyata.." Erik menengok ke arah Helena yang sedang mengenakan kacamata. "Oh kau sudah bangun, selamat pagi! Aku hanya sedang memikirkan sesuatu Helena, ketika melihat banyak hal dari balik jendela pagi ini."
"Apa yang sedang kau pikirkan? Sepertinya akan menjadi sebuah obrolan menarik." Tanya Helena.
"Apa yang sebenarnya mereka cari?" 
"Siapa maksudmu, Erik?" Helena yang baru saja terbangun menguap.
"Manusia, lantas apa yang sebenarnya mereka cari?" Tanya Erik kepada Helena.
"Oh, lagi-lagi manusia ya."
"Cukup mengganggu bukan?"
"Ya begitulah."
"Apakah akan selalu begini Helena? Akhir dari sebuah Desember." Erik mematikan rokoknya, kemudian meletakannya di asbak.
"Banyak hal-hal yang sesungguhnya tersirat Erik, mereka bersembunyi seperti perdebatan Eksistensi dan Esensi, kau tidak akan bisa mengetahui semua hal. Terkadang, sesekali lakukan hal-hal yang berkebalikan. Cobalah untuk berpikir menggunakan hati, lalu sebaliknya." Helena masih terbaring di kasurnya, menggunakan selimut dan topi natal.
"Seperti halnya obrolan ketika, bukan kah hidup hanyalah sebuah skenario? Jikalau begitu maka si penulis juga turut serta menyembunyikan sesuatu? Apakah seperti itu Helena?"
"Ya begitulah, penulis yang menceritakan kisah kita berdua pun sedang berpikir keras Erik, bagaimana dia dapat menyembunyikan sesuatu yang selayaknya disembunyikan."
"Apakah dia akan tetap berusaha untuk melanjutkan ceritanya? Sembari memikirkan hal-hal tersirat yang harus disembunyikan kembali?" Erik kembali melihat ke arah jendela, melihat kerumunan yang semakin penuh sesak.
Helena mencoba bangun dari kasurnya, sembari digulung oleh selimut, topi natal di kepalanya pun belum terlepas. "Pertanyaanmu itu, seperti hal nya kapan kita akan mati? Manusia mana yang mampu menjawabnya? Sepertinya tidak ada Erik." Setelah sepersekian detik Helena bangkit, terdengar suara tembakan pistol sebanyak enam kali. Kemudian suasana di kamar itu seketika menjadi hening, hanya lagu-lagu milik George Ezra yang masih bersenandung pagi itu dan Budapest menjadi saksi keheningan di sepersekian detik terakhir... Apakah ada yang kurang?
 

Kamis, 10 November 2016

Payung-Payung Keniscayaan




Ah kenapa musiknya berhenti? Menyebalkan!
Aku sangat membenci hujan yang tidak bersenggama,
Dengan alunan melodi keputusasaan.
Rintihan butir kerinduan hanya akan menjadi kesia-siaan belaka,
Bilamana pada akhirnya memang dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Untuk sekedar jatuh,
Menghujam ke tanah,
Lalu berdarah,
Di hadapan payung-payung kematian,
Aku bersaksi,
Bahwa langit adalah sepersekian dari rasa rinduku padamu,
Wahai kau partikel yang menjadi manifestasi atas ketiadaan.


Lalu seperti biasa mengenai sepersekian detik,
Hujan pun berhenti,
Kemudian payung-payung keniscayaan mulai menghilang,
Dan aku kembali lagi terjebak di dalam hingar bingar samar.
Melihat setetes demi setetes ketakutan,
Jatuh dari langit-langit rumah tua itu,
Perlahan seperti pemakaman yang tak kunjung juga ku dapatkan.
Maka berlarilah aku menuju taman Olio,


Mengambil sekuntum harapan,
Atas kehidupan yang sebenarnya tidak pernah ada.

Rabu, 05 Oktober 2016

Untuk Sesuatu Yang Pada Akhirnya Hanya Menjadi Ketiadaan, Lalu Dilupakan.

            Apa yang sebenarnya aku cari? Bahkan aku tidak tahu kenapa aku masih hidup sampai saat ini. Aku juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya aku inginkan dari kehidupan yang terlalu fana ini. Sampai saat ini, aku masih tersesat dan tetap menolak untuk menggunakan kompas. Pernah kalian berpikir tentang sebuah teori mengenai titik jenuh dalam suatu hal? Kejenuhan adalah hal yang sangat wajar dialami oleh setiap manusia. Jujur saja, mungkin aku sudah terlalu lelah dengan perjalanan ini. Terlebih dengan ketersesatanku dan dengan angkuhnya menolak untuk menggunakan kompas. Oh dimana aku?


            Sebuah peradaban kah? Apa untuk kesekian kalinya kita harus membicarakan peradaban? Sepertinya tidak. Aku hanya tersesat, dan lupa bagaimana cara menikmatinya. Mungkin saja aku sudah mulai jenuh, maka hal baru apa yang harus aku lakukan? Cara hidup yang seperti apa? Hidup yang bagaimana? Padahal aku tidak perlu pusing-pusing untuk memikirkannya. Aku sangat menunggu, hari dimana aku akan jenuh dengan pikiranku sendiri, kemudian aku tinggal menjalani kehidupan ini seperti manusia pada umumnya. Menjadi yang seragam, menjadi yang terikat oleh nilai, menjadi yang fana, menjadi yang sebenarnya tidak pernah menjadi, menjadi seperti apa yang tidak pernah aku inginkan.


            Entah sampai kapan aku akan berbicara tentang waktu, angin kehidupan, kritik terhadap kopi peradaban dan sebagainya. Sebenarnya, aku hanya tidak tahu bagaimana cara menjalani hidup, bukan untuk menjadi yang baik atau jahat, bukan menjadi yang terdepan atau terbelakang, bukan menjadi yang terlihat atau terbenam, hanya menjadi yang hidup dan seperti yang dikehendaki oleh semesta. Sedangkan sampai saat ini semesta tak kunjung memberikan kabar, padahal sudah kulewatkan lima pekan dengan ketidaktenangan dan kegelisahan tak bertuan ini. Aku merindukan tenang, Aku merindukan pergulatanku dengan sisi lain dari kehidupanku,Aku rindu terjebak di dalam rasionalitas tak berbatas, Aku merindukan rindu.


            Aku juga tidak pernah mengerti kenapa aku mulai menulis, untuk sesuatu yang sebenarnya tidak akan pernah ada harganya, untuk sesuatu yang bahkan tidak akan pernah bisa dimengerti, untuk sesuatu yang mengalir seperti hal nya darah, untuk sesuatu yang pada akhirnya hanya menjadi ketiadaan, lalu dilupakan.


            Ah sampai dimana aku tadi? Maaf, tadi ada sedikit ketertarikan eksistensialis. Apakah akan kita lanjutkan? Sepertinya tidak, mari cukupkan sampai disini. Sayang sekali, kalian harus membaca tulisan ini. Tulisan sia-sia yang sama seperti halnya kehidupan kita kelak, diakhir penantian bernama kematian.

Sabtu, 03 September 2016

Pertanyaan dan Pernyataan

         Terkadang aku diam termenung memikirkan suatu hal, tentang sebuah pertanyaan yang lebih sering muncul ketimbang hal-hal mengenai keterlemparan hidup atau manusia beserta peradabannya. Pertanyaan yang sangat sering muncul dan ku acuhkan, karena ini tidak semudah merenungkan kehidupan beserta kompleksitasnya. Kenapa aku selalu berpikir mengenai hal-hal kecil disekitarku? Mengapa aku selalu menulisnya di dalam sebuah catatan harian yang tidak tahu akan sampai kapan aku akan melakukannya? Bagaimana bisa aku selalu berpikir mengenai hal-hal yang hirarki dan sebenarnya tidak perlu di pertanyakan, namun aku justru menantangnya dan ingin membuat sebuah anti-tesis?
           Tiga pertanyaan yang akan selalu muncul setelah aku selesai menulis catatan harianku mengenai permenunganku atas hidup ini. Pertanyaan yang sampai saat ini tidak pernah bisa aku jawab, atau mungkin memang sedang tidak ingin aku jawab. Entahlah, aku merasa menjadi manusia yang berbeda dengan orang-orang disekitarku. Berbicara soal normal hingga bosan, kebebasan yang tidak pernah bisa keluar dari batasnya dan peperangan berdarah mengenai kebenaran. Tiga hal yang selalu berputar di kepalaku, memaksaku untuk berpikir dan menghasilkan sebuah tulisan yang sebenarnya aku tidak tau, untuk apa aku menulis? Semakin hari, aku merasa tidak sanggup menerima segala realita kehidupan ini. Kompleksitasnya semakin menghimpitku ke ruang tak terbatas, semakin terhimpit semakin menjadi sempit. Hingga batas yang aku cari sedari dulu hampir ke temukan, namun kembali semesta selalu member sebuah permainan yang menyenangkan. Permainan tersebutlah yang mencegah kompleksitas tersebut membantuku untuk menyentuh batas kehidupan ini, benar-benar menarik.
           Entahlah sampai kapan samudera kehidupan ini akan ku arungi. Tidak seperti pelaut yang lain, aku selalu diterpa badai kebingungan. Sepertinya aku terlalu sombong untuk tidak memakai kompas dalam perjalanan panjang ini. Tapi aku percaya, di ujung laut sana juga ada pelaut yang sepertiku, jadi itu tidak terlalu membuatku khawatir berpergian di tengah luasnya samudera tanpa sebuah kompas sebagai penunjuk arah. Biarkan saja mata angin membawaku, sesuka dia menghantarkanku kepada semesta. Cukup sekian, aku tidak terlalu suka menulis panjang-panjang seperti para maestro disana. Aku ini hanya seonggok daging yang bergentayangan dalam kemewaktuan, jadi tidak ada yang perlu diharapkan dari manusia sepertiku.