Selasa, 29 Desember 2020

Jika Tidak Ada Hari Esok Untukku

Jika tidak ada hari esok untukku

Memilih untuk tetap hidup hingga hari ini adalah keputusan yang tepat

Pernah pada suatu ketika aku memutuskan untuk menyudahinya

Tetapi entah apa yang menghentikanku pada sore hari itu.


Jika tidak ada hari esok untukku

Hujan di sore hari adalah momen terbaik untuk berkontemplasi

Matahari pagi adalah momen terindah untuk bermimpi

Dan malam yang sunyi adalah momen terbaik untuk menyendiri.


Jika tidak ada hari esok untukku

Salah satu hal yang paling ku inginkan adalah berkeluarga

Kelak menjadi seorang Ayah dan Suami yang keren tentunya

Tidak terlalu kaya, tetapi tidak terlalu miskin juga. Secukupnya dan berbahagia.


Jika tidak ada hari esok untukku

Ketahuilah bahwa aku benar-benar bersyukur

Untuk kehidupan yang begitu luar biasa hebatnya

Dan aku menjalaninya secara utuh dengan penuh kesadaran.


Jika tidak ada hari esok untukku

Aku pernah bermimpi akan menjadi seseorang di kemudian hari

Seseorang yang akan merubah dunia menjadi tempat yang lebih baik

Bisa melalui jalur politik, musik, tulisan atau menjadi Romo sekalipun.

 

Jika tidak ada hari esok untukku

Sepertinya aku masih mengharapkan seseorang dari masa lalu

Sungguh, wanita itu sering kali hadir di dalam kepalaku

Setidaknya sebulan sekali selama sepuluh tahun kebelakang.

 

Jika tidak ada hari esok untukku

Banyak sekali imajinasi dan pemikiran gila di kepalaku

Mengenai hal-hal yang penting dan tidak penting

Seperti nyata atau tidaknya kehidupan kita hari ini.

 

Jika tidak ada hari esok untukku

Menurutku, hamburger adalah makanan paling lezat di dunia

Sedangkan kopi adalah minuman paling enak di muka bumi

Dan rokok serta alkohol adalah sesuatu yang rasanya biasa-biasa saja.

 

Jika tidak ada hari esok untukku

Keluargaku memang tidak sempurna, tetapi aku menyayangi mereka

Terkadang mereka menyebalkan, tetapi selalu hadir di barisan terdepan

Mereka adalah salah satu hal yang paling ku syukuri di kehidupan ini.

 

Jika tidak ada hari esok untukku

Sampai detik ini aku masih sering memikirkan masa lalu

Tentang segala hal yang sudah terjadi dan lewat begitu saja

Jikalau sempat, akan ku buat mesin waktu untuk kembali berkunjung.

 

Jika tidak ada hari esok untukku

Green Day adalah band yang benar-benar luar biasa

Lagu Jesus of Suburbia sangat berperan besar dalam kehidupanku.

Dan American Idiot adalah album paling gila.

 

Jika tidak ada hari esok untukku

Semoga lunas sudah hutang yang harus dibayar

Tidak sepantasnya manusia sepertiku hidup lebih lama

Atas segala kesalahan tragis dan menyedihkan di masa lalu.

 

Jika tidak ada hari esok untukku

Semoga kita bisa bertemu kelak

Aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya

Sebagai seseorang yang seharusnya bertanggung jawab.

 

Jika tidak ada hari esok untukku

Mungkin memang sepantasnya seperti itu

Karena aku adalah sepersekian yang tidak signifikan

Dan memang begitu adanya, di dalam kemewaktuan yang temporer.

 

Jika tidak ada hari esok untukku

Sesungguhnya, banyak sekali hal yang ingin ku lakukan di dunia ini

Entah apakah masih ada cukup waktu dan kesempatan bagiku

Di dalam keterlemparan yang tidak bertuan.


Di antara hidup dan mati, pada sebuah perayaan yang tragis.

Yogyakarta, 30 Desember 2020.


Jumat, 11 September 2020

Tentang Pikiran dan Perasaan

 

        Apakah kalian pernah merasakan kebahagiaan dan kesedihan di waktu yang bersamaan? Terdengar cukup aneh, tapi pagi ini aku merasakan kedua hal tersebut secara bersamaan. Bahagia karena aku masih diberikan hidup, keluarga yang baik dan dapat menikmati pagi ini dengan segelas teh serta pemandangan burung-burung yang berterbangan di sekitar rumahku. Sedih karena menyadari bahwa dalam beberapa jam, hal-hal tersebut akan menghilang dan aku harus melanjutkan kehidupanku di usia dua puluh tiga yang menyebalkan. Aku benar-benar yakin bahwa kalian pernah merasakan hal-hal semacam ini.

            Manusia adalah makhluk yang menurut ku begitu kompleks dan rumit. Kita terdiri dari berbagai macam perasaan dan pikiran yang terus-menerus berubah dan saling mengisi satu sama lain, perpaduan komposisi itu pun bergantung juga pada suasana dan kondisi di sekitar kita. Bisa jadi kita merasakan kesedihan karena beberapa jam yang lalu kita baru saja dikhianati oleh orang yang kita cintai, tetapi di saat yang bersamaan bisa jadi kita harus berbahagia karena dikelilingi oleh orang yang benar-benar mencintai kita dan masih peduli dengan keberadaan kita.

Setelah melalui pergumulan dalam diri karena mempertimbakang perasaan dan pikiran, kita akan berakhir pada satu titik dimana keputusan harus segera diambil, apakah kita akan bersedih atau berbahagia. Tentu saja, secara tidak sadar kita akan berbicara dengan diri kita sendiri seperti orang gila, untuk menentukan respon seperti apa yang harus kita berikan terhadap sekumpulan kejadian yang sedang kita alami, atau hal yang paling mendasar adalah menentukan apa yang harus kita rasakan dan kita pikirkan untuk menjadi satu fondasi tertentu di dalam memenuhi diri kita sebagai manusia yang mewaktu dalam keadaan yang selalu berubah.

Beberapa orang akan mengikuti perasaan mereka, beberapa yang lain akan mengikuti pikiran mereka dan tidak ada yang salah dengan kedua hal tersebut karena pada akhirnya ini cuman persoalan preferensi. Beberapa teman-temanku menyadari biasanya mereka terlebih dahulu digerakan oleh perasaan, lalu kemudian dikendalikan oleh pikiran. Bisa jadi perasaan kita yang mendominasi, bisa pula pikiran kita yang jauh lebih bijak untuk mengendalikan keadaan. Perasaan tidak pernah salah, begitu pula dengan pikiran kita, hanya saja kesesuaian menjadi sesuatu yang biasanya mutlak bagi sebagian manusia di dalam menentukan respon yang paling tepat dalam suatu kondisi tertentu.

Bagi ku pribadi, perasaan dan pikiran seperti saudara kembar yang sering berkelahi karena memperebutkan hal-hal remeh, tetapi di saat yang bersamaan mereka berdua adalah saudara kembar yang saling melengkapi satu sama lain. Meskipun keduanya dapat hidup terpisah, tetapi kemungkinan akan lebih baik jika mereka hidup berdampingan dan saling menopang satu sama lain sebagai saudara yang memiliki keterikatan batin. Sesekali saudara kembar bernama perasaan dan pikiran tersebut berkelahi, untuk memperebutkan kendali atas diri kita. Sesekali pula saudara kembar tersebut saling bersinergi agar diri kita tidak kehilangan arah. Mereka berdua terkesan seperti “love hate relationship” tetapi dalam bentuk yang abstrak.

Sabtu, 05 September 2020

Pengampunan Imajiner

            Aku masih menantikan, hari-hari di mana aku tidak menghidupinya, menjadi yang satu dengan alam semesta dan menjadi yang tidak mewaktu dalam kehidupan. Tetapi hari-hari itu masih menjadi pertanyaan, entah kapan datangnya atau seperti apa rupanya, tidak ada satu pun manusia yang dapat menjelaskan dan membuktikannya secara penuh, bahkan pembahasan mengenai hal-hal tersebut hanya berputar disekitaran intepretasi dan nilai-nilai kebenaran yang relatif. Melalui segala perdebatan tentang seperti apa kematian nantinya, tentu kita sama-sama tahu bahwa pada suatu saat, semua manusia akan menepi dan berakhir.

            Beberapa orang mempercayai konsep surga dan neraka, beberapa yang lainnya tidak. Sebagian orang mempercayai konsep reinkarnasi, sebagian yang lainnya tidak. Ada juga yang mempercayai bahwa tidak ada apa-apa setelah kematian, pun demikian dengan hal-hal rumit yang lain. Entah akan seperti apa kematian nantinya, satu-satunya persoalan yang sangat menggangguku adalah mengenai bagaimana kita akan dibalas oleh semesta di kemudian hari. Untuk segala dosa, kesalahan dan kejahatan yang telah kita perbuat baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

            Pada suatu titik aku berpikir, jika nantinya benar-benar tidak apa-apa setelah kematian, akan sangat tidak adil bagiku ketika semua dosa, kesalahan dan kejahatan yang telah ku perbuat di dunia ini tidak dibalas. Aku berharap, lebih baik semesta membalas semua dosa dan kesalahan tersebut di dunia ini, ketika aku masih mewaktu dan menjadi manusia. Bagiku, orang-orang berdosa tidak membutuhkan pengampunan, dia hanya butuh dibalas dengan hal yang setimpal agar tidak lagi merasa gelisah dan bersalah.

Pengampunan bukanlah hubungan yang satu arah, bahkan sebenarnya kita tidak pernah tahu apakah semesta benar-benar mengampuni. Selama hidup di dunia ini, bisa saja kita hanya menghidupi pengampunan yang imajiner, sebuah pengampunan yang sebenarnya tidak pernah ada dan hanya hidup di dalam pikiran dan keyakinan kita. Bagiku pribadi, pengampunan akan lunas ketika kita sudah dibalas atas segala kesalahan dan perbuatan dosa di masa lampau. Bisa jadi pengampunan seperti itu dapat diterima oleh beberapa orang yang tidak dapat menerima pengampunan secara cuma-cuma seperti diriku saat ini.

Sampai sejauh ini, aku berharap, semoga semesta mau membalas semua kesalahan dan dosa yang telah ku perbuat. Tidak pada kematian, tetapi pada kehidupan.

Minggu, 09 Agustus 2020

Ketidakpercayaan dan Keheningan

Ditulis sesingkat-singkatnya.

Pada akhirnya, kita akan berakhir di pemakaman seorang diri. Bahkan perayaan-perayaan orang terkasih hanya menjadi pelepasan euforia semata, setelah itu sisanya hanyalah serangkaian rutinitas dan formalitas. Benar-benar tidak ada yang lebih mengerikan selain menghadapi kenyataan bahwa kita akan menepi, berhenti lalu mati. Tetapi memang begitulah adanya, serangkaian kehidupan beserta kematian, sekumpulan yang kompleks dan membuatku ingin meledak. Menjadi berkeping-keping dan bergeming. Bukan kah itu yang sebenarnya selama ini engkau cari? Atau justru alasan itu hanya dalih di balik akumulasi ketakutan terhadap ketidakjelasan dan ketidakpastian? Bisa jadi keduanya.

            Di dalam kesendirian, aku belajar mengenai ketidakpercayaan dan sampai detik ini aku menghidupinya. Tentang ketidakpercayaan terhadap apapun, bahkan terhadap yang absolut sekalipun. Karena kepercayaan melahirkan pengkhianatan dan dari situ roda berjalan bernama dendam tertanam abadi, di setiap nadi. Mengalir dalam darah yang menghidupi manusia, yang sebagian berhasil mengenal belas kasih, tetapi tidak dengan yang sebagian. Lalu berakhir dengan betapa biadabnya kita, manusia, yang saling mengkhianati satu sama lain. Bersama ego, yang saling berlomba satu sama lain, menjadi yang paling.

            Pemakaman di dunia ini berbagai macam bentuknya, bisa sebidang tanah, sebuah wadah atau seluas berkah. Tetapi satu yang pasti, mereka sudah tidak lagi dikhianati karena yang menjadi teman abadi adalah kesendirian. Seorang teman bernama kesendirian memberikan sebuah garansi, bahwa dia tidak akan pernah mengkhianatimu atau setidaknya mempermainkanmu. Kesendirian justru mengjarkanku banyak hal mengenai hidup dan mati. Bahkan beberapa pelajaran yang tidak akan aku pernah dapatkan di tempat lain. Dari situ, aku mengetahui bahwa kehidupan ini hanyalah sekumpulan pertaruhan pilihan dan konsekuensinya.

            Aku belajar bahwa baik untuk tidak terlalu cepat memberikan kepercayaan kepada orang lain, tetapi aku kemudian belajar bahwa akan semakin lebih baik lagi ketika tidak memberikan kepercayaan kepada orang lain, bahkan kepada diri sendiri. Terdengar membingungkan, aku pun demikian. Tetapi dari ketidakpercayaan tersebut, setidaknya aku tidak lagi hidup dalam ketakutan karena aku tahu pada akhirnya tidak ada sesuatu hal yang akan ku dapatkan di kemudian hari, selain kesendirian dan keheningan. Tetapi itu lebih baik, dibandingkan dengan  pengkhianatan dan dipermainkan, oleh sekelompok mamalia bernama manusia.