Being shit to yourself, kindly to the others. Don't rolled back..
Well.. Let's gettin started.
A few days ago, ah forget it.
Pagi ini mungkin sama seperti pagi yang telah berlalu, matahari mulai terbangun, orang-orang mulai berkativitas, kehangatan dan sejuknya perasaan itu menyelimutiku dari kejauhan.
Namun aku sedang memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada, mungkin bisa dibilang fana.. Tentang seseorang yang harus kuselamatkan. Adakah orang yang benar-benar harus aku selamatkan jiwanya? Seseorang itulah yang membuat pagi ini begitu berbeda. Biasanya pagi seperti ini aku sudah memulai rutinitas hidup sehatku, yaah walau hanya sekedar jogging dan kali ini aku memilih untuk diam merenung didepan layar kaca maya ini untuk menuliskan hal yang cukup terpikirkan olehku. Ternyata menulis di pagi hari itu enak, banyak inspirasi yang datang namun tetap secara otomatis otakku akan memilahnya.
Apakah kalian percaya bahwa sebenarnya Tuhan membawa kita ke dunia ini karena ada sesuatu yang harus kita lakukan? Bukan hanya sekedar sekolah, tumbuh dewasa, menikah, punya anak dan seterusnya.. Bukan. Tapi lebih kepada "Apakah kamu sudah berguna bagi sesamamu?" Mungkin lebih tepatnya aksi nyata untuk sesama. Terkadang terpikirkan olehku manusia di era sekarang ini lebih mementingkan kehidupan dan kenikmatan apalagi yang harus mereka capai, mereka lupa bahwa sebenarnya di luar sana masih banyak orang-orang yang membutuhkan. Membutuhkan apapun itu....
Tapi manusia lebih cenderung untuk acuh tak acuh, entahlah hanya perasaanku atau kenyataan tapi ini benar-benar menggangguku. Jikalau kita melompat kepada pemikiran yang lebih tinggi aku akan bertanya kepada Tuhan.. "Tuhan apakah ini memang sudah baik adanya? Ini kah yang dimaksud keseimbangan? Jikalau begitu maka aku benar-benar tidak bisa merubah dunia se-utuh-nya menjadi sesuatu yang lebih baik?"
Memang bodoh.. Seseorang bocah memiliki impian untuk merubah dunia ini menjadi lebih baik. Mustahil? Mungkin.. Tapi aku berpikir setidaknya aku sudah berani memiliki impian yang besar, aku berani keluar dari zona nyaman. Itulah yang terjadi kepada generasi penerus bangsa ini, mereka terlalu takut untuk keluar dari zona nyaman. Entahlah mungkin aku ini aneh dan terlalu berani mengambil resiko. Aku juga pernah berpikir bahwa besok aku akan memiliki keluarga dan harus menafkahi mereka dan bisa-bisa nya sampai saat ini aku tetap berpikir untuk merubah dunia ini menjadi sesuatu yang lebih baik. Sepertinya tulisan ini mulai kacau dan menyebar dalam berbagai aspek..........
So take me from the darkness savior!
"Semoga Dunia Ini Bisa Menjadi Tempat Yang Lebih Baik Untuk Hal Yang Sebenarnya Aku Benci.. Manusia!"
Selasa, 19 Mei 2015
Jumat, 01 Mei 2015
Sajak Tulisan Atau Apa?
Bulan berlalu dan malam sepertinya sedih, mungkin tidak karena langit malam ini tidak terlalu cerah.. Padahal aku tidak melihat keluar, hanya merasakan sejenak bahwa malam ini bulan sedang bersedih. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, mungkin dia sedang ingin berganti peran dengan matahari yang sepertinya kehadiran pagi itu selalu ditunggu dan ber-label-kan kebahagiaan dan semangat. Malam? Rasa lelah dan beristirahat bahkan bisa jadi ketakutan. Langit benar-benar gagah, bintang benar-benar menggoda dan angin sangatlah mengerti betapa ada seorang pemuda yang mati-matian menyembunyikan ketakutan terbesarnya atas waktu dan masa depan. Pemuda itu kini sedang duduk dan menulis tulisan ini, kemudian dia berpikir bahwa sebenarnya tulisan ini terlalu... Entahlah, mungkin berlebihan. Tidak ada yang ingin aku bahas malam ini, apakah ini sebuah sajak tulisan atau apa? Jika aku boleh berkata ini adalah irama dalam setiap nafas yang aku hembuskan hingga malam ini. Terima kasih Tuhan, Engkau selalu mengerti betapa dunia ini butuh sebuah keseimbangan yang mungkin tidak akan pernah manusia mengerti. Mungkin cukup sekian, atau aku harus berbicara soal kesempurnaan? Topik yang bagus, lingkungan sekitarku adalah ide terbaik untuk sebuah tulisan.. Teman, ya begitulah
Jika aku akan menjelaskan kesempurnaan maka jawaban singkatnya adalah, Tuhan.
Semoga cukup untuk membantu dan tetap menginspirasi walaupun tulisan ini sepertinya memang benar-benar tersirat.
Jika aku akan menjelaskan kesempurnaan maka jawaban singkatnya adalah, Tuhan.
Semoga cukup untuk membantu dan tetap menginspirasi walaupun tulisan ini sepertinya memang benar-benar tersirat.
Kamis, 16 April 2015
Tulisan Malam Berjudul Waktu
"Lagu ini dulu biasanya Papa dengerin waktu malem-malem gini di kos-kosan sambil ngerjain tugas atau ngapainlah sama Om Yosi."
Ya itulah perkataan Ayahku setelah didalam mobil aku memilih untuk memasukan cd lagu lawas berjudul... Stuck. Kemudian Ayahku teringat akan masa lalu SMA dia, dan cerita pun dimulai.. Ya setidaknya membuatku tidak bosan menyetir.
"Dulu kos Papa tuh kalau malem gini biasanya rame, ada yang belajar, ada yang cuman main, ada yang numpang makan. Pokoknya banyak."
"Eh si Yosi gimana kabare pah?" Ibuku bertanya..
"Wah Yosi, udah lama e gak denger kabarnya. Dulu dia lho yang pertama kali ngehubungi Papa setelah dikira Papa itu udah meninggal Dunia."
Ya setelah lulus kuliah, teman-teman ayahku mengira bahwa dia telah meninggal karena ada salah kabar dan kebetulan juga Ayahku tidak pernah ikut reuni. Om Yosi bisa dibilang Sahabat yang paling okelah bagi Ayahku, karena mereka berdua selalu menghabiskan waktu bersama..
"Kalau Om Yosi dirumah sendirian, biasanya Om Yosi main ke kos Papa terus diajaklah untuk menginap dirumahnya Om Yosi. Ya enak punya temen kayak dia, kalau dirumahnya serasa di surga. Om Yosi dulu kalau curhat pasti ke Papa.. Apalagi soal wanita."
Om Yosi adalah anak orang kaya sedangkan Ayahku hanyalah seorang perantau pas-pasan dan mereka berdua terlihat sangat akrab dari cerita Ayah dan teman-teman yang dulu pernah aku temui.
"Tapi sekarang gatau Om Yosi gimana kabarnya, Kapolres yang susah untuk dihubungi.. Sampai saat ini Papa belum bisa ketemu sama Om Yosi. Padahal udah kangen banget. Dulu Om Yosi kalau soal asmara pasti sial terus.. Setiap ngapel pasti ada aja halangannya, modus ini itu selalu gagal dan pasti kalah cepat."
"Kalau Papa dulu gimana?" Tanyaku..
"Wah dulu Papa gak doyan begituan, tapi dulu Papa temenan sama yang cantik-cantik. Temen cewek banyak tapi ga punya pacar. Dulu aja waktu Papa sakit Primadonya sekolahan Papa jengukin ke kos-an lho."
Sejenak aku terdiam...... Kenapa masa muda Ayahku dan aku sedikit sama ya soal teman wanita yang begitu banyak. Huh tapi tidak terlalu aku pikirkan.
"Kok Papa ga pernah ikut reuni lagi sih semenjak ketemu Tante Diah?" Tanyaku penasaran..
"Nanti, mama mu marah."
Ya seketika aku, ayahku, ibuku dan adikku langsung tertawa. Tante Diah dan Ayahku dulu katanya pernah ada rasa, tapi sekarang mereka sudah punya kehidupan sendiri...... Tante Diah tinggal di Belanda dan Ayahku masih saja di Jogja.
"Kamu mau po ngga kuliah di Belanda? Kalau mau nanti tinggal sama Tante Diah."
"Ah Papa dulu dah pernah nawarin. Tapi aku gak mau kalau gak beasiswa pah. Apalagi di Eropa kayaknya kerja sambil kuliah gak diperbolehin. Naya aja yang di Amerika katanya harus nunggu beberapa bulan baru bisa ambil Part Time Job."
"Sebenarnya kalau duit buat kuliahnya itu ada ngga."
Ya aku tetap terdiam.. Berpikir lagi bahwa beberapa bulan yang lalu aku sudah menolak beasiswa dari AUC dan sekarang aku juga tidak mau kuliah di Belanda. Ada kekhawatiran soal kemampuan diri dan juga faktor seseorang yang tidak bisa aku tinggalkan... Keluarga! Tapi bagaimanapun juga cepat atau lambat aku akan menikah, punya keluarga dan hidup mandiri lalu aku benar-benar akan khawatir dengan mereka. Ingin rasanya aku membawa keluargaku untuk tetap berada didekatku, tapi........ Sebenarnya semua itu hanya didasarkan oleh sebuah opini seseorang pemuda yang terlalu Idealis tapi tetap Realistis, rasanya tulisan ini sudah mulai tidak jelas.... Sejenak aku berpikir tentang masa depan. Bagaimana besok ya? Aku ada di posisi Ayahku dan sudah punya anak. Lalu aku bercerita tentang masa SMAku. Entahlah.. Semua perasaan bercampur aduk dan aku tertawa kecil. Aku jadi berpikir bagaimana ya kehidupanku di masa depan.. Entahlah setiap kali aku berkunjung ke catatan ini selalu saja soal masa depan dan masa lalu yang aku khawatirkan. Sesuatu yang belum terjadi dan membuat bebrapa umat manusia menjadi khawatir sehingga mereka benar-benar....................... Tidak menyadari apa yang sebenarnya kita cari didunia ini.
Untuk kalian yang sedang membaca jurnal ini... Coba pikirkan dan buat draft history 5 tahun sebelum ini dan 5 tahun yang akan datang. Jika berkenan silahkan bercengkerama dan berbagi pikiran dengan saya. Sepertinya ini sudah terlalu panjang.... Sekian.
Ya itulah perkataan Ayahku setelah didalam mobil aku memilih untuk memasukan cd lagu lawas berjudul... Stuck. Kemudian Ayahku teringat akan masa lalu SMA dia, dan cerita pun dimulai.. Ya setidaknya membuatku tidak bosan menyetir.
"Dulu kos Papa tuh kalau malem gini biasanya rame, ada yang belajar, ada yang cuman main, ada yang numpang makan. Pokoknya banyak."
"Eh si Yosi gimana kabare pah?" Ibuku bertanya..
"Wah Yosi, udah lama e gak denger kabarnya. Dulu dia lho yang pertama kali ngehubungi Papa setelah dikira Papa itu udah meninggal Dunia."
Ya setelah lulus kuliah, teman-teman ayahku mengira bahwa dia telah meninggal karena ada salah kabar dan kebetulan juga Ayahku tidak pernah ikut reuni. Om Yosi bisa dibilang Sahabat yang paling okelah bagi Ayahku, karena mereka berdua selalu menghabiskan waktu bersama..
"Kalau Om Yosi dirumah sendirian, biasanya Om Yosi main ke kos Papa terus diajaklah untuk menginap dirumahnya Om Yosi. Ya enak punya temen kayak dia, kalau dirumahnya serasa di surga. Om Yosi dulu kalau curhat pasti ke Papa.. Apalagi soal wanita."
Om Yosi adalah anak orang kaya sedangkan Ayahku hanyalah seorang perantau pas-pasan dan mereka berdua terlihat sangat akrab dari cerita Ayah dan teman-teman yang dulu pernah aku temui.
"Tapi sekarang gatau Om Yosi gimana kabarnya, Kapolres yang susah untuk dihubungi.. Sampai saat ini Papa belum bisa ketemu sama Om Yosi. Padahal udah kangen banget. Dulu Om Yosi kalau soal asmara pasti sial terus.. Setiap ngapel pasti ada aja halangannya, modus ini itu selalu gagal dan pasti kalah cepat."
"Kalau Papa dulu gimana?" Tanyaku..
"Wah dulu Papa gak doyan begituan, tapi dulu Papa temenan sama yang cantik-cantik. Temen cewek banyak tapi ga punya pacar. Dulu aja waktu Papa sakit Primadonya sekolahan Papa jengukin ke kos-an lho."
Sejenak aku terdiam...... Kenapa masa muda Ayahku dan aku sedikit sama ya soal teman wanita yang begitu banyak. Huh tapi tidak terlalu aku pikirkan.
"Kok Papa ga pernah ikut reuni lagi sih semenjak ketemu Tante Diah?" Tanyaku penasaran..
"Nanti, mama mu marah."
Ya seketika aku, ayahku, ibuku dan adikku langsung tertawa. Tante Diah dan Ayahku dulu katanya pernah ada rasa, tapi sekarang mereka sudah punya kehidupan sendiri...... Tante Diah tinggal di Belanda dan Ayahku masih saja di Jogja.
"Kamu mau po ngga kuliah di Belanda? Kalau mau nanti tinggal sama Tante Diah."
"Ah Papa dulu dah pernah nawarin. Tapi aku gak mau kalau gak beasiswa pah. Apalagi di Eropa kayaknya kerja sambil kuliah gak diperbolehin. Naya aja yang di Amerika katanya harus nunggu beberapa bulan baru bisa ambil Part Time Job."
"Sebenarnya kalau duit buat kuliahnya itu ada ngga."
Ya aku tetap terdiam.. Berpikir lagi bahwa beberapa bulan yang lalu aku sudah menolak beasiswa dari AUC dan sekarang aku juga tidak mau kuliah di Belanda. Ada kekhawatiran soal kemampuan diri dan juga faktor seseorang yang tidak bisa aku tinggalkan... Keluarga! Tapi bagaimanapun juga cepat atau lambat aku akan menikah, punya keluarga dan hidup mandiri lalu aku benar-benar akan khawatir dengan mereka. Ingin rasanya aku membawa keluargaku untuk tetap berada didekatku, tapi........ Sebenarnya semua itu hanya didasarkan oleh sebuah opini seseorang pemuda yang terlalu Idealis tapi tetap Realistis, rasanya tulisan ini sudah mulai tidak jelas.... Sejenak aku berpikir tentang masa depan. Bagaimana besok ya? Aku ada di posisi Ayahku dan sudah punya anak. Lalu aku bercerita tentang masa SMAku. Entahlah.. Semua perasaan bercampur aduk dan aku tertawa kecil. Aku jadi berpikir bagaimana ya kehidupanku di masa depan.. Entahlah setiap kali aku berkunjung ke catatan ini selalu saja soal masa depan dan masa lalu yang aku khawatirkan. Sesuatu yang belum terjadi dan membuat bebrapa umat manusia menjadi khawatir sehingga mereka benar-benar....................... Tidak menyadari apa yang sebenarnya kita cari didunia ini.
Untuk kalian yang sedang membaca jurnal ini... Coba pikirkan dan buat draft history 5 tahun sebelum ini dan 5 tahun yang akan datang. Jika berkenan silahkan bercengkerama dan berbagi pikiran dengan saya. Sepertinya ini sudah terlalu panjang.... Sekian.
Sabtu, 24 Januari 2015
Between Hell Heaven
"Ngga mimpimu itu terlalu tinggi deh, realistis aja.." Lalu 10 hari kemudian "Ngga beranilah buat bermimpi setinggi angkasa, Tuhan kita besar dan hebat. Apa iya kamu mau mimpimu cuman sederhana kayak gitu?" Hey bitch.. Are you fucking kidding me? Then I heard again. "Jadilah dirimu sendiri ngga, gak usah mikirin apa kata orang" 10 HARI KEMUDIAN "Ngga kamu ya harus nyesuain dong, orang-orang gak suka kalau kamu kayak gitu" Bitch please... "Alon-alon asal kelakon" Nah "Lebih cepat lebih baik"
So, the most wise man told me about this.. "Semua itu ada waktunya, kapan kamu harus A dan B. Ini semua soal time-ing" Yayayaya Got it, fool? Saya hanya tidak pernah tepat, mungkin itu saja permasalahan utamanya. Tapi terkadang saya bingung. Si A bilang qwerty lalu si B bilang uiop nah ada juga si C malah bilang asdfg. Apa saya harus menggunakan "Jadilah dirimu sendiri" atau "Ngga kamu harus nyesuain" ??
Sering ada permasalahan seperti itu yang saya temui dan itu membuat saya gila hingga akhirnya sekarang saya benar-benar membenci diri saya sendiri.. Lalu ketika ingat kedua orang tua saya. Fuck Off! I'm so stupid!! Penyesalan tiada akhir. Saya menyesal telah membenci diri saya sendiri, saya ciptaan Yang Maha Kuasa dan kesayangan dari kedua orang tua saya.
Intinya, apakah saya labil? Jika tidak labil maka saya akan selalu mengambil jawaban A dan B + C akan selalu menyalahkan jawaban saya.
J A D I A P A Y A N G H A R U S S A Y A P E R B U A T ?
Aku hanya bingung dengan segala opsi yang ada........ Apakah saya gila? Mungkin terlalu memikirkan masalah ini. Apakah saya harus bertindak luweh? Jika begitu akan lebih menyenangnkan!
I live.... Between Hell Heaven.
So, the most wise man told me about this.. "Semua itu ada waktunya, kapan kamu harus A dan B. Ini semua soal time-ing" Yayayaya Got it, fool? Saya hanya tidak pernah tepat, mungkin itu saja permasalahan utamanya. Tapi terkadang saya bingung. Si A bilang qwerty lalu si B bilang uiop nah ada juga si C malah bilang asdfg. Apa saya harus menggunakan "Jadilah dirimu sendiri" atau "Ngga kamu harus nyesuain" ??
Sering ada permasalahan seperti itu yang saya temui dan itu membuat saya gila hingga akhirnya sekarang saya benar-benar membenci diri saya sendiri.. Lalu ketika ingat kedua orang tua saya. Fuck Off! I'm so stupid!! Penyesalan tiada akhir. Saya menyesal telah membenci diri saya sendiri, saya ciptaan Yang Maha Kuasa dan kesayangan dari kedua orang tua saya.
Intinya, apakah saya labil? Jika tidak labil maka saya akan selalu mengambil jawaban A dan B + C akan selalu menyalahkan jawaban saya.
J A D I A P A Y A N G H A R U S S A Y A P E R B U A T ?
Aku hanya bingung dengan segala opsi yang ada........ Apakah saya gila? Mungkin terlalu memikirkan masalah ini. Apakah saya harus bertindak luweh? Jika begitu akan lebih menyenangnkan!
I live.... Between Hell Heaven.
Langganan:
Postingan (Atom)