![]() |
Green Day, Jakarta 15 February 2025 |
KrunK Project !
Kamis, 20 Februari 2025
Sabtu, 09 Maret 2024
di pertengahan bulan desember yang sunyi
"dan pada tiap keheningan-keheningan yang ku temukan di setiap perjalanan, mereka nyata bersemayam dalam setiap perayaan."
Mereka memulai dengan sebuah pertanyaan-pertanyaan di sekitaran perayaan, berharap masing-masing dari mereka menemukan jawaban-jawaban atas ketidaktahuan yang sedang mereka renungkan.
Sesekali salah satu dari mereka menyalakan perapian, begitu pula dengan yang lain menyiapakn perarakan dan sisanya membantu dalam doa dari setiap apa saja yang mereka semogakan.
Senin, 19 Februari 2024
At the end of the day,
At the end of the day, when the sun dips below the horizon and shadows stretch across the canvas of existence, there's a stark realization that lingers in the quiet corners of our minds — the undeniable truth that, in the grand tapestry of life, we are fleeting, mere visitors on this ephemeral journey.
As the hands of time relentlessly move forward, we navigate the maze of experiences, hopes, and dreams. Yet, in the vast cosmic expanse, our narratives are but brief whispers, echoing momentarily before dissipating into the vastness of the unknown.
In the face of this inevitable truth, there is both a haunting melancholy and a profound liberation. The weight of transient struggles and fleeting victories is softened by the cosmic perspective that, at the end of the day, we all converge towards the same destination — the quiet embrace of eternity.
It's a reminder to savor the hues of each sunset, to dance in the rain of laughter, and to forge connections that defy the limitations of time. For in the end, our shared mortality becomes the common ground that unites us all, urging us to seek meaning, purpose, and connection in the brief interlude we call life.
Embrace the beauty in the ephemeral, the poetry in the passing moments, and let the awareness of our shared mortality inspire you to live authentically, love deeply, and leave an indelible mark on the fleeting canvas of existence. At the end of the day, amid the dance of shadows and the whispers of the wind, find solace in the understanding that, somewhere along the journey, you left a trace of your unique light in the tapestry of time.
Sabtu, 31 Desember 2022
Merayakan Keabsurdan di Jakarta
Dan perayaan-perayaan
tersebut, bagi saya hanyalah sebuah satu checklist pemberhentian yang
menyatakan bahwa hidup sudah mencapai momen transit di entah berantah. Cepat
atau lambat tempat pemberhentian itu akan disambut dengan berbagai macam
kesemogaan. Kesemogaan itu biasanya dibalut dengan optimisme, meski tidak sedikit
yang memilih menu hidangan pesimisme untuk menyambutnya. Ada juga beberapa yang
menyambutnya dengan berpuasa, terhadap ekspetasi dan pencapaian.
Beberapa hari yang lalu, banyak sekali
orang-orang yang merayakan ulang tahun seseorang yang saya sebut sebagai “bosku”
atau “Bro J”. Mereka berbondong-bondong, pergi ke tempat peribadatan untuk
merayakan hari kelahiran si juru selamat. Beberapa memaknainya sebagai sesuatu
yang sifatnya transenden, beberapa yang lain tidak dan itu bukan menjadi suatu
masalah. Tetapi bagi saya pribadi, momen seperti ini dapat dimaknai pula
sebagai suatu pemberhentian sejenak dari kehidupan yang terkadang selalu
memaksa kita untuk terus berlari, mengejar tentang apa-apa saja yang bahkan
sebenernya tidak pernah kita ketahui.
Kata “sejenak” sering
sekali hilang dalam diksi kehidupan saya, terlebih ketika sudah pindah dan
menetap untuk beberapa saat di Jakarta, menjadi “homo-jakartensis” yang
terjebak dalam rutinitas sembilan sampai lima. Apabila diberi pilihan, tentu saya
tidak akan memilih cara hidup seperti ini, tetapi tidak semua orang dilahirkan
dengan “keistimewaan” untuk memilih tentang cara hidup yang mereka
inginkan. Sejujurnya sampai detik ini, saya merasa masih lebih beruntung dibandingkan
orang-orang yang kerap saya temui di sekitaran Jakarta yang lebih keras
dibandingkan tidak sama sekali. Iya, Jakarta yang lebih keras dibandingkan
tidak sama sekali.
Jakarta yang katanya
keras itu mengajarkan banyak hal kepada saya, kalau kata dosen saya ketika
mengambil mata kuliah sosiologi kota, “Jakarta itu, laboratorium sosiologi yang
sangat menarik.” dan setelah hampir setahun tinggal di sini, saya mengiyakan pernyataan
tersebut. Di kota tersebut, kalian bisa melihat sepasang kekasih makan makanan
mewah sembari tertawa bahagia menikmati malam natal yang penuh dengan suasana
gembira. Di sisi yang lain, persis di sebelah restoran tersebut, ada sepasang
kekasih kelas menengah yang hanya bisa menikmati malam natal dengan kesederhanaan.
Tidak jauh dari tempat tersebut, di dalam gelapnya gemerlap kota “metropolitan”
tersebut, ada sepasang kekasih yang sama-sama berjuang untuk sekedar bertahan
hidup, jauh dari kata layak.
Sebuah kota yang bagi
saya pribadi, benar-benar menarik. Apa saja yang lewat seketika di kepala saya
bisa saling terhubung satu sama lain, mulai dari kerasnya kehidupan korporasi sembilan
sampai lima, dilanjut dengan pelarian “yang sedang berjuang” di bawah gemerlap lantai
dansa dan sedikit perapian, kemudian disusul dengan cerita-cerita khas di
daerah “yang sengaja terpinggirkan”, ada juga cerita tentang harapan dan
kekecawaan dalam ruang hampa “yang terkadang dibesar-besarkan”, kemudian berakhir
pada sebuah perayaan natal “yang sedikit kehilangan arahnya”.
Oke cukup sampai di sini,
awalnya saya hanya ingin menulis kalau edisi natal kali ini saya rayakan dengan
keberagaman, kesederhanaan yang jauh dari hingar-bignar dan absennya kehangatan
pelukan dari keluarga serta orang-orang terkasih, tetapi makin ke sini kok
malah makin ke sana kemari ya. Oke kita cukup sudahi sampai di sini saja.
Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini.
Selamat merayakan
apa saja yang harus dirayakan,
Krunk yang sedang melamun
seperti biasanya.